daerah

Kisah Warga Aceh Tamiang Mengalah dari Antrean Huntara Usai Banjir Sumatera, Pilih Dahulukan Penyintas Lebih Terisolir

Kamis, 8 Januari 2026 | 07:59 WIB
Relawan Fahri Ibrochim membagikan kisah inspiratif salah satu warga Aceh Tamiang. (Instagram/fahriibrochim)

ACEH, Mediapriangan.com - Banjir Sumatera yang terjadi pada akhir November 2025 membawa dampak besar bagi sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Salah satu daerah yang mengalami kerusakan parah akibat Banjir Sumatera adalah Kabupaten Aceh Tamiang.

Di tengah proses pemulihan pascabencana, bantuan terus mengalir bagi Warga Aceh Tamiang, mulai dari logistik hingga penyediaan hunian sementara (Huntara).

Pemerintah mencatat ribuan rumah warga rusak akibat Banjir Sumatera, sehingga kebutuhan akan Huntara menjadi prioritas utama.

Baca Juga: Tali Sling Jadi Andalan Warga Kecamatan Ketol Aceh Tengah, Desa Masih Terisolir Lebih dari 40 Hari Pascabanjir

Di balik upaya penanganan tersebut, muncul kisah inspiratif dari Warga Aceh Tamiang yang memilih mengalah dari antrean Huntara. Kisah ini dibagikan oleh konten kreator sekaligus relawan Fahri Ibrochim melalui media sosialnya.

Fahri menceritakan pertemuannya dengan seorang warga di Kampung Suka Jadi, Aceh Tamiang, yang telah terdaftar sebagai penerima Huntara.

Namun, Warga Aceh Tamiang tersebut memutuskan untuk mendahulukan penyintas lain yang dianggap lebih membutuhkan.

Baca Juga: Tanpa Seragam Sekolah, Anak-Anak Aceh Tamiang Tetap Antusias Jalani Hari Pertama Sekolah Pascabanjir

“Ada satu ibu-ibu yang saya tanya, ‘Bu, apakah sudah terdaftar dalam orang yang akan mendapatkan rumah sementara atau huntara yang kemarin diresmikan oleh Bapak Presiden?’ kemudian, ibu itu menjawab, ‘Sudah, kami sudah dapat,’” ucap Fahri, dikutip pada Rabu, 7 Januari 2026.

Menurut Fahri, Warga Aceh Tamiang itu berada di nomor antrean sekitar 700 saat proses pendataan Huntara. Meski rumahnya rusak akibat Banjir Sumatera, ia memilih tidak segera menempati Huntara yang disediakan.

Warga Aceh Tamiang tersebut menilai masih ada penyintas lain yang kondisinya lebih parah. Fahri kemudian menanyakan alasan di balik keputusan tersebut.

Baca Juga: Warga Kota Aceh Tamiang Keluhkan Krisis Air Minum Pascabanjir, Bantuan Disebut Mulai Berkurang

“‘Kami lebih mendahulukan saudara kami di titik lain yang mereka juga parah.’ Kemudian saya penasaran, saya tanya, ‘Ibu kan rumah hancur, harta benda hilang, kampung ini semua hancur. Maksudnya lebih parah apa?’” imbuh Fahri.

Fahri menjelaskan bahwa menurut penuturan Warga Aceh Tamiang tersebut, ada penyintas Banjir Sumatera yang akses jalannya terputus, sehingga bantuan sulit menjangkau lokasi mereka.

Halaman:

Tags

Terkini