Pemerintah daerah bergerak cepat dengan mengevakuasi warga terdampak Banjir Bandang Pemalang ke sejumlah lokasi pengungsian.
Warga Desa Penakir kini ditampung di gedung kecamatan, SD Penakir 2, gedung milik Nahdlatul Ulama, serta beberapa posko darurat yang dinilai aman dari ancaman lanjutan.
“Untuk di kecamatan kurang lebih 400 orang dan mungkin untuk di SD sekitar 600 atau lebih. Untuk yang masih di posko-posko yang kami anggap aman ada 4 RT dan 1 RT di madrasah,” ucap Agus, Kepala Desa Penakir di lokasi kejadian.
Baca Juga: Garoga Tapanuli Selatan Tersapu Banjir Bandang dan Kayu Gelondongan, Warga Ungkap Kondisi Terkini
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan mendesak para pengungsi mencakup logistik harian, obat-obatan, alas tidur, hingga selimut.
Dampak Banjir Bandang Pemalang juga dirasakan oleh kelompok rentan seperti bayi dan balita yang membutuhkan penanganan khusus.
“Barangkali ada balita yang membutuhkan, kami juga butuh obat-obatan atau peralatan untuk balita atau bayi,” terangnya.
Selain kerusakan fisik, Banjir Bandang Pemalang juga menimbulkan korban jiwa. Hingga Sabtu, 24 Januari 2026, tercatat satu warga laki-laki dari Dusun Wanasari, Desa Penakir, meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Di tengah proses penanganan, BPBD Kabupaten Pemalang mengingatkan masyarakat agar mengurangi aktivitas di sepanjang aliran sungai.
Curah hujan tinggi di kawasan Gunung Slamet masih berpotensi memicu banjir bandang susulan, sehingga kewaspadaan menjadi kunci untuk mencegah jatuhnya korban tambahan akibat Banjir Bandang Pemalang.***