Baca Juga: Trauma Warga Usai Banjir Penakir Pemalang, Dengarkan Gemuruh Keras sebelum Air Terjang Permukiman
Bencana banjir Purbalingga dan longsor Purbalingga terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026, akibat hujan berintensitas tinggi di lereng Gunung Slamet. Peristiwa tersebut berdampak pada empat desa di dua kecamatan.
Wilayah terdampak meliputi Desa Sangkanayu dan Desa Lambur di Kecamatan Mrebet, serta Desa Kutabawa dan Desa Serang di Kecamatan Karangreja. Material berupa batu, kayu, lumpur, dan batang pohon terbawa arus hingga menutup akses warga.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Purbalingga saat ini menyiapkan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak.
Pembangunan dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari pemulihan pascabencana longsor Purbalingga.
Selain penanganan permukiman, perbaikan infrastruktur juga menjadi perhatian. Jembatan yang rusak akan segera ditangani untuk memulihkan mobilitas warga.
BPBD Purbalingga mencatat sekitar 60 hektare lahan persawahan di Desa Kutabawa mengalami kerusakan akibat material banjir Purbalingga, sehingga menyebabkan gagal panen.
Di tengah proses pemulihan tersebut, peran relawan Purbalingga tetap menjadi kekuatan utama. Dari membersihkan lumpur hingga menyeduh kopi, solidaritas sederhana itu menjadi penopang semangat di tengah situasi sulit.***