ACEH, Mediapriangan.com - Menjelang datangnya bulan Ramadan, kehidupan warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang, masih jauh dari kata pulih.
Hingga awal Februari 2026, sebagian besar warga masih menggantungkan hidup di tenda pengungsian akibat dampak parah banjir yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.
Tiga bulan pascabanjir, kondisi di Desa Sekumur belum banyak berubah. Rumah-rumah warga hancur terseret arus, sementara sebagian lainnya rata dengan tanah akibat hantaman air bercampur gelondongan kayu. Situasi ini membuat warga Aceh Tamiang belum bisa kembali ke kehidupan normal.
Fakta di Lapangan Terungkap Lewat Video Warga
Gambaran terbaru kondisi Desa Sekumur terungkap melalui unggahan video akun Instagram @waracantika06 pada Minggu, 8 Februari 2026.
Dalam video tersebut, deretan tenda pengungsian masih berdiri dan menjadi satu-satunya tempat tinggal warga.
“8 Februari 2026, mana yang bilang Sekumur baik-baik saja? Ini rumah hancur dan ini tenda tempat tinggal kami sekarang, 3 bulan pascabanjir,” ucap warga dalam video tersebut.
“Kami masih tidur di tenda, kami masih kepanasan, bayangkan bagaimana nanti kami bulan puasa masih tidur di dalam tenda,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi nyata warga Desa Sekumur, yang harus menghadapi suhu ekstrem di tenda pengungsian, panas menyengat di siang hari dan dingin menusuk saat malam.
Hidup di Tenda, Tantangan Bertambah
Selama tinggal di tenda pengungsian, warga Aceh Tamiang mengaku menghadapi berbagai keterbatasan. Selain ruang sempit, kondisi cuaca membuat aktivitas harian menjadi lebih berat, terlebih bagi anak-anak dan lansia.