Pihak sekolah bahkan memperkirakan makanan tersebut berpotensi menjadi limbah jika tetap dibagikan kepada siswa.
“Ini lelenya masih mentah ya, sangat disesalkan oleh sekolah karena terus terang bisa menjadi sampah di sekolah karena akan dibuang oleh anak-anak nanti,” ucapnya.
Arifin juga mengungkapkan bahwa kejadian ini dapat berdampak pada keberlanjutan kerja sama antara SMAN 2 Pamekasan dengan SPPG As-Salman dalam penyaluran makan bergizi gratis.
“Penerima layanan di sini, mewakili sekolah untuk disampaikan ke pihak dapur, mungkin tertulis akan disusulkan. Ada kecenderungan sekolah akan memutus MoU untuk pindah dapur,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah beberapa kali menyampaikan masukan terkait kualitas layanan makan bergizi gratis yang dikirim oleh SPPG As-Salman.
“Mohon untuk bapak ibu guru kesabarannya. Ini proses pengembalian pertama dengan sangat terpaksa. Beberapa kali diingatkan belum ada tindakan perbaikan kualitas,” tuturnya.
Sementara itu, pihak SPPG As-Salman memberikan klarifikasi terkait menu lele mentah yang menjadi sorotan dalam penolakan makan bergizi gratis tersebut.
Ahli gizi SPPG As-Salman, Fikri Mutawakkil, menjelaskan bahwa lele yang dikirim sebenarnya merupakan lele yang telah melalui proses marinasi.
“Kenapa kami menggunakan lele marinasi? Karena memperhatikan gizi di lelenya, yang kedua untuk menambah protein di hari itu, dan yang ketiga adalah penyimpanan lele marinasi itu bisa sampai satu hari,” kata Fikri dalam keterangannya.
Pihak SPPG As-Salman juga menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi dalam distribusi makan bergizi gratis ke SMAN 2 Pamekasan.
“Selanjutnya, kami memohon maaf apabila ada kata-kata dan tindakan yang salah, kami akan memperbaiki ke depannya dan ini menjadi evaluasi kami,” tandasnya.***