Sejumlah komentar pun muncul sebagai bentuk kritik terhadap unggahan tersebut.
“Kalian harusnya bersyukur dapat kerjaan, kalau MBG stop, kalian udah nggak dapat gaji dari pajak rakyat lagi,” tulis akun @shi****d.
“Kalau ada kekurangan atau kritik program, itu bagian dari evaluasi. Menyebut masyarakat sebagai ‘rakyat jelata kurang bersyukur’ tidak mencerminkan sikap pelayanan publik yang profesional,” tulis akun @aul***_.
“Padahal program MBG dan operasional SPPG didanai dari pajak rakyat tapi kok bisa ngomong gitu pakai kalimat rakyat jelata pula,” tulis akun @yes***8.
Di tengah ramainya kritik publik, perempuan bernama Diah Fatmiasih yang diduga sebagai pengunggah status WA petugas SPPG tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat.
Baca Juga: MBG TK Rawajitu Timur Lampung Disorot, Keterlambatan Pengantaran Picu Keluhan Wali Murid
Dalam video yang beredar di media sosial, ia mengakui bahwa pernyataannya yang menyebut rakyat jelata merupakan kesalahan pribadi dan tidak mewakili lembaga maupun dapur program MBG tempatnya terlibat.
“Dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh penerima manfaat MBG dan masyarakat luas atas pernyataan saya yang menyebut penerima manfaat sebagai rakyat jelata,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa unggahan tersebut dibuat secara pribadi dan tidak berkaitan dengan operasional program MBG.
Baca Juga: Menu Donat MBG Viral, SPPG Duta Lere Palu Jadi Perdebatan Warganet soal Gizi dan Pengalaman Anak
“Saya juga siap menerima sanksi apapun,” tuturnya lagi.
Selain permintaan maaf, beredar pula informasi di media sosial yang menyebut bahwa yang bersangkutan tidak lagi menjadi bagian dari relawan SPPG Purbalingga.
Informasi tersebut muncul dalam tangkapan layar percakapan yang juga viral di media sosial.
“Untuk tindak lanjutnya, beliau diberikan sanksi diberhentikan menjadi relawan SPPG,” tulis pesan chat tersebut.***