TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Selain dipusingkan oleh masih tingginya harga sejumlah komoditas pasar pasca Lebaran Idul Adha, kini masyarakat juga dibingungkan dengan kelangkaan minyak goreng kemasan subsidi merek Minyakita. Sejak beberapa minggu terakhir, minyak jenis tersebut susah dicari di pasaran di Kota Tasikmalaya.
Hal itu diungkapkan salah satu pembeli, Dede Erna (38), warga Sukagalih, Kelurahan Talangsari, Kecamatan Kawali, yang mengaku sejak beberapa waktu terakhir kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok tersebut.
"Saya sudah mencari di beberapa kios di pasar termasuk ke distributor untuk mendapatkan Minyakita, tapi tidak ada," ujar Dede, Minggu (7/6/2026).
Baca Juga: Idul Adha 2026, Jasa Giling Daging di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya Cenderung Sepi
Menurutnya, selama ini untuk kebutuhan sehari-hari ia menggunakan minyak goreng kemasan Minyakita karena harganya lebih murah dibanding minyak goreng kemasan merek lain.
"Minyak curah lain di pasaran tembus Rp20.800 hingga Rp21.500 per liter. Sedangkan Minyakita harganya Rp18.000, atau lebih murah," ucapnya.
Ia pun berharap agar kelangkaan Minyakita segera teratasi karena sangat diperlukan masyarakat di tengah tingginya harga sejumlah bahan pokok di pasaran.
Pemerintah diharapkan segera turun tangan untuk mengatasi masalah ini agar masyarakat dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau.
Pemantauan di sejumlah pasar di Kota Tasikmalaya, 7 Juni 2026, keberadaan minyak kemasan Minyakita memang langka. Di Pasar Cikurubuk misalnya, di sejumlah jongko penjualan minyak tidak ditemukan kemasan Minyakita yang dijual para pedagang.
Menurut para pedagang, kelangkaan minyak goreng kemasan merek Minyakita di pasaran disinyalir akibat kurangnya pasokan dari distributor karena disalurkan untuk bantuan pangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Ya Minyakita kan kemarin dibagikan pada bantuan pangan, kayaknya habis diborong pemerintah, termasuk habis dibeli oleh para pemilik dapur MBG," ujar Dewi (46), salah seorang pemilik kios bumbu di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya.
Akibatnya, kata Dewi, pedagang kesulitan mendapatkan pasokan dari distributor dan sering kali terpaksa membeli dari tangan kedua atau melalui sistem bundling yang membebani modal. Padahal, kata Dewi, banyak pembeli yang mencari Minyakita.