Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan tim Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, memantau kondisi wilayah, serta memberikan asistensi terkait kesiapsiagaan.
Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Harga Masker Melonjak, Keluhan Seller Nakal di Tengah Abu Vulkanik
"Penilaian kesiapsiagaan dilakukan di kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya di Pandeglang," kata Berton dalam keterangan resminya di Jakarta, pada Kamis, 10 September 2026.
"Serta beberapa desa pesisir di Serang dan Cilegon, untuk memastikan berfungsinya sarana peringatan dini," sambungnya.
Pemeriksaan BNPB turut menyasar kawasan yang memiliki nilai penting bagi keselamatan masyarakat, termasuk sejumlah permukiman yang pernah terdampak tsunami Selat Sunda pada 2018.
Di Kabupaten Pandeglang, pemeriksaan mencakup menara sirene peringatan dini di Kecamatan Sumur dan Panimbang. Kedua fasilitas tersebut tercatat siap dioperasikan.
Selain sirene, jalur evakuasi di kawasan tersebut juga telah terpasang. Simulasi kebencanaan secara rutin turut dilakukan. Namun, alat Warning Receiver System atau WRS Gen di Tanjung Lesung masih menjalani proses perbaikan.
Berlanjut ke Kabupaten Serang, BNPB menemukan Forum Pengurangan Risiko Bencana dan relawan pantai telah menjalankan perannya. Kesiapan tersebut didukung menara sirene serta peta evakuasi menuju titik aman yang masih berfungsi.
Sementara di Kota Cilegon, peninjauan dilakukan di Kelurahan Kubangsari. Pemeriksaan mencakup keberadaan Standar Operasional Prosedur peringatan dini dan fungsi sirene tsunami yang berada di kawasan kantor kelurahan.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian di kawasan Selat Sunda. Di tengah kondisi tersebut, kesiapan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan koordinasi antarpihak terus diperiksa di sejumlah wilayah pesisir Banten.***