Awal Karier Dengan Berdagang Batik
Setelah kembali ke Indonesia pada 1950, Riady memilih untuk memulai bisnis kecil-kecilan.
Terinspirasi oleh ayahnya yang berdagang batik di Malang, ia memutuskan untuk mengikuti jejak tersebut.
"Dalam sehari, saya harus menjual setidaknya delapan batik untuk memenuhi kebutuhan hidup," ujar Riady.
Ia bahkan sempat merasa putus asa ketika harus bersaing dengan pedagang lain di kawasan Kayutangan, Malang.
Namun, titik baliknya terjadi ketika ia membaca filosofi Lao Tzu di sebuah koran. Pemikiran tentang hidup yang seimbang dan berempati mengubah cara pandangnya.
"Saya mulai berpikir, daripada mengeluh, lebih baik fokus pada apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain," kata Riady.
Bertransformasi Menjadi Bankir
Dari berdagang batik, Riady beralih ke dunia perbankan, karena ia menyadari pentingnya uang dalam kehidupan.
"Uang bukan sekadar materi, tetapi juga mewakili waktu, tenaga, dan pikiran—semua anugerah dari Tuhan," jelasnya.
Sebagai bankir, Riady dikenal piawai
menyelamatkan bank-bank bermasalah, salah satunya Bank Buana pada 1966 yang terancam bangkrut di tengah krisis ekonomi.
Keahliannya inilah yang kemudian menjadi pondasi kesuksesan bisnisnya.