Awal Karier Dengan Berdagang Batik
Setelah kembali ke Indonesia pada 1950, Riady memilih untuk memulai bisnis kecil-kecilan.
Terinspirasi oleh ayahnya yang berdagang batik di Malang, ia memutuskan untuk mengikuti jejak tersebut.
"Dalam sehari, saya harus menjual setidaknya delapan batik untuk memenuhi kebutuhan hidup," ujar Riady.
Ia bahkan sempat merasa putus asa ketika harus bersaing dengan pedagang lain di kawasan Kayutangan, Malang.
Namun, titik baliknya terjadi ketika ia membaca filosofi Lao Tzu di sebuah koran. Pemikiran tentang hidup yang seimbang dan berempati mengubah cara pandangnya.
"Saya mulai berpikir, daripada mengeluh, lebih baik fokus pada apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain," kata Riady.
Bertransformasi Menjadi Bankir
Dari berdagang batik, Riady beralih ke dunia perbankan, karena ia menyadari pentingnya uang dalam kehidupan.
"Uang bukan sekadar materi, tetapi juga mewakili waktu, tenaga, dan pikiran—semua anugerah dari Tuhan," jelasnya.
Sebagai bankir, Riady dikenal piawai
menyelamatkan bank-bank bermasalah, salah satunya Bank Buana pada 1966 yang terancam bangkrut di tengah krisis ekonomi.
Keahliannya inilah yang kemudian menjadi pondasi kesuksesan bisnisnya.
Artikel Terkait
Dulu Anak Petani, Kisah Inspiratif Jack Ye Pemilik Miniso dengan Kekayaan Rp40 Triliun dan 5.000 Gerai di 100 Negara
Menkomdigi Meutya Hafid Menangis dan Meminta Maaf, Kisah Pilu Istri Pecandu Judi Online yang Kehilangan Segalanya
Cak Imin Dimarahi Istri Soal Judol, Meutya Hafid Minta Maaf Usai Pegawai Kemenkomdigi Terlibat Kasus Judi Online
Menteri Komdigi Blokir 651 Rekening Bank Terindikasi Judi Online, BCA Jadi yang Terbanyak, Simak Penjelasannya!
UMP 2025 Jadi Agenda Utama Presiden Prabowo dan Menaker, Simak Detail Kenaikan untuk DKI Jakarta dan Daerah Lain
Bareskrim Ungkap Fredy Pratama Masih Aktif Kirim Narkoba, Begini Detail Jaringan Internasional yang Dikelolanya