Mediapriangan.com - Tahun 2025 diprediksi jadi momentum krusial bagi bisnis baru atau startup. Riset terbaru McKinsey mengungkap, salah satu faktor penentu keberhasilan mereka bukan hanya modal atau inovasi, melainkan budaya kerja yang sehat.
Dalam laporannya, McKinsey menegaskan bahwa budaya positif mampu melipatgandakan kinerja bisnis baru.
“Hal itu dengan cara menetapkan keyakinan dasar, fokus pada kepemimpinan, serta mencontohkan dan merayakan perilaku yang diharapkan,” demikian tertulis dalam riset tersebut.
Meski mudah dipertahankan saat tim masih kecil, budaya kerja kerap tergerus ketika perusahaan berkembang.
Karena itu, menurut McKinsey, pemimpin perlu secara sadar merawat dan menegakkan nilai yang sudah disepakati sejak awal.
Riset mencatat, 26 persen kegagalan bisnis baru dalam perusahaan besar disebabkan oleh lemahnya budaya organisasi.
Baca Juga: Prabowo Bentuk Badan Industri Mineral, Bahlil Lahadalia Tegaskan Bedanya dengan Kementerian ESDM
Untuk mencegahnya, McKinsey menyarankan tiga langkah utama: menetapkan nilai inti, membentuk kepemimpinan yang tepat, serta mencontohkan perilaku positif sambil memberi apresiasi pada karyawan.
Contoh nyata datang dari perusahaan energi terbarukan di Eropa. Mereka menjadikan kesesuaian budaya sebagai syarat rekrutmen, bahkan membentuk akademi khusus untuk mendorong keragaman. Hasilnya, budaya sehat tetap terjaga dan pertumbuhan bisnis berjalan lebih cepat.
Budaya positif juga terbukti meningkatkan daya tarik bagi talenta baru. Lebih dari 70 persen pencari kerja disebut mencari informasi dari karyawan sebelum melamar. Reputasi baik membuat perusahaan lebih mudah mendapatkan SDM unggulan.
Dari sisi finansial, perusahaan dengan budaya kuat mampu meningkatkan laba operasional hingga 18 persen per tahun.
Tingkat pengembalian modalnya bahkan tercatat 2,5 kali lebih tinggi dibanding perusahaan dengan budaya lemah.