Ini merupakan pendapat yang diterima oleh mayoritas ulama mazhab Syafi'iyah (An-Nawawi, Al-Majmu' Syarhul Muhaddzab, juz VI, halaman 365).
Berdasarkan penjelasan tersebut, orang yang meninggalkan puasa Ramadan karena uzur dapat melaksanakan puasa Syawal terlebih dahulu.
Pasalnya, mereka masih diperbolehkan untuk mengganti puasa kapan saja, selama sebelum datangnya bulan Ramadan berikutnya.
Baca Juga: Malam Lailatul Qadar: Doa dan 5 Amalan Terbaik untuk Meraih Kebahagiaan dan Ampunan
Namun, bagi yang meninggalkan puasa tanpa uzur, maka ia wajib mengutamakan mengganti puasa Ramadan terlebih dahulu, dan tidak diperbolehkan melakukan puasa Syawal sampai kewajiban mengganti puasanya selesai.
Fokus pembahasan tentang mana yang harus didahulukan, antara puasa Syawal atau qadha puasa Ramadan, hanya relevan bagi mereka yang meninggalkan puasa karena uzur.
Sedangkan bagi yang sengaja meninggalkan puasa, mereka dilarang melaksanakan puasa sunnah sebelum mengganti puasa yang wajib.
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (wafat 974 H) berpendapat bahwa orang yang memiliki kewajiban mengganti puasa Ramadan lebih utama untuk mendahulukan qadha puasa Ramadan daripada puasa Syawal.
Bahkan, menurut beliau, jika seseorang melaksanakan puasa Syawal sebelum mengganti puasa Ramadan, hal itu dapat dianggap makruh, dan pahalanya tidak akan sempurna.
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar, orang yang mendahulukan puasa Syawal sebelum mengganti puasa Ramadan tidak akan mendapatkan pahala puasa sunnah dengan sempurna, karena hadits yang menganjurkan puasa Syawal hanya berlaku bagi mereka yang telah menyelesaikan kewajiban puasa Ramadan.
Baca Juga: 5 Amalan Sunnah Pada Hari Jumat, Sesuai Anjuran Rosulullah SAW
Pendapat senada juga disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H), yang menegaskan bahwa qadha puasa Ramadan lebih utama untuk didahulukan daripada puasa Syawal.
Hal ini, menurut beliau, juga lebih cepat membebaskan seseorang dari kewajiban mengganti puasa.