Google Rayakan 'Hadiah Berharga', Warisan Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, yang Tak Pernah Punah

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Sabtu, 5 November 2022 | 08:06 WIB
Judul Google Doodle "Celebrating Raja Haji Ahmad', merayakan kehidupan dan warisan Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, Sabtu, 5 November 2022. (Tangkapan layar Google Doodle )
Judul Google Doodle "Celebrating Raja Haji Ahmad', merayakan kehidupan dan warisan Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, Sabtu, 5 November 2022. (Tangkapan layar Google Doodle )

Mediapriangan.com - Google Doodle hari ini tampak seorang pria berkopiah dengan kacamata dilengkapi dengan buku dan pena jaman dulu berujung bulu merpati.

Judul Google Doodle "Celebrating Raja Haji Ahmad', merayakan kehidupan dan warisan Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, Sabtu, 5 November 2022.

Lantas siapakah dia? dan memperingati apa Google Doodle hari ini dengan menampilkan gambar Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad?

Baca Juga: Jelang Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 58 Tahun 2022, Kenang Para Pahlawan Kesehatan Indonesia

Ternyata momentum hari ini, tepatnya 18 tahun yang lalu, Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Ya, Google merayakannya pada hari ini, 5 November 2004 lalu, Raja Ali secara anumerta dihormati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Dilansir dari berbagai sumber, inilah sosok sebenarnya dari aja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad.

Baca Juga: 15 Link Download Twibbon Hari Kesehatan Nasional 2022, Pilihan Terbaik dan Bisa Digunakan Semua Kalangan

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad adalah seorang sejarawan, cendekiawan, dan penulis terkenal.

Beliau memimpin kebangkitan sastra dan budaya Melayu pada abad ke-19.

Nama lengkapnya Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau.

Baca Juga: 20 Link Download Twibbon Hari Kesehatan Nasional 2022, Dengan Desain Menarik, Cocok Dibagikan di Media Sosial

Raja Ali lahir sebagai pangeran Bugis-Melayu pada tahun 1809 dari keluarga ulama.

Namanya diambil dari nama sang kakek, merupakan tradisi orang Melayu, yaitu menyematkan nama kakek yang sudah meninggal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X