“Jadi, begitu kita mengambil anak itu dipindahkan ke tempat lain, kita tidak mengoreksi problem yang buat anak terjadi begini,” tambahnya.
Anies menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari semua pihak yang terlibat dalam pembentukan karakter anak, bukan hanya dari anak itu sendiri.
“Kalau gurunya nggak ngoreksi, orang tuanya nggak ngoreksi, lingkungan nggak ngoreksi… karena munculnya kejadian yang tidak seperti diharap itu kan anak ini produk dari didikan di rumah, sekolah, lingkungan,” terangnya.
“Jadi kalau ada masalah, maka yang harus sama-sama ngoreksi ya semuanya,” lanjutnya.
Terkait penggunaan barak militer sebagai tempat pelatihan anak-anak bermasalah, Anies menyebut bahwa pendekatan militeristik seharusnya tidak diterapkan pada dunia pendidikan.
“Barak itu terbukti efektif untuk mendidik kedisiplinan, untuk mendidik kepatuhan bagi prajurit, sudah jelas, masalah pendidikan diselesaikan secara pendidikan,” tegas Anies.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan bahwa dunia pendidikan harus tetap menjadi tempat membentuk karakter melalui proses belajar, bukan sebagai sarana hukuman.
“Masalahnya di mana? Apakah sederhana? Tidaklah. Tapi itu yang namanya menyelesaikan masalah, dan ini sifatnya untuk pendidikan, jangan sifatnya jadi hukuman,” pungkasnya.***