nasional

Sri Mulyani Siapkan Strategi Fiskal 2026, SAL Rp60 Triliun Digunakan untuk Kurangi Utang dan Perkuat APBN

Rabu, 20 Agustus 2025 | 14:34 WIB
Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani akan memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari APBN 2025 untuk mengurangi utang. (Instagram/smindrawati)

 

Mediapriangan.com - Pemerintah memastikan langkah strategis dalam menjaga stabilitas fiskal pada tahun anggaran 2026.

Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari APBN 2025 senilai Rp60 triliun.

Berdasarkan Buku II Nota Keuangan dan Rancangan APBN 2026, dana tersebut akan diarahkan untuk dua tujuan utama, yakni mengurangi ketergantungan pada pembiayaan utang dan memperkuat cadangan fiskal sebagai penyangga (fiscal buffer).

Baca Juga: FDA Temukan Udang Beku Asal Indonesia di Walmart Diduga Tercemar Cs-137, Produk Masuk Blacklist di AS

“Pada RAPBN tahun anggaran 2026, pemerintah mengalokasikan penggunaan SAL sebagai instrumen pengurang utang dan fiscal buffer sebesar Rp60 triliun,” tertulis dalam dokumen resmi Kementerian Keuangan, Selasa 19 Agustus 2025.

Selain fokus pada pengurangan utang, sebagian SAL juga ditempatkan pada instrumen keuangan jangka pendek yang dinilai aman dan terkendali.

Mekanisme ini memberi fleksibilitas tambahan, sebab dana dapat dipakai untuk menutup defisit APBN 2026 bila diperlukan.

Baca Juga: Studi Global Sebut 76 Persen Warga RI Khawatir Pekerjaan Digantikan AI, Berbanding Terbalik dengan Jepang dan Jerman

Tidak hanya SAL, pemerintah juga menyiapkan alternatif pembiayaan melalui Hasil Pengelolaan Aset (HPA).

Sumber penerimaan ini berasal dari penjualan maupun likuidasi aset eks Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) serta aset bekas Bank Dalam Likuidasi (BDL).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan, pemanfaatan SAL sebagai sumber pembiayaan non-utang sudah terbukti berperan besar dalam menjaga kesinambungan fiskal negara.

Baca Juga: Pertamina-Pindad Luncurkan ILI UT, Teknologi Canggih Inspeksi Pipa Migas Ultrasonik Buatan Anak Bangsa

Ke depan, pengelolaan SAL tetap dilakukan secara efisien dan optimal, terutama menghadapi potensi ketidakpastian ekonomi di tingkat domestik maupun global.***

Tags

Terkini