“Saya aja nista bilang itu daging olahan, saya nggak tahu itu produk apaan. Rasanya kayak karton, warnanya pink, lalu anak-anak disuruh DIY, astaga,” ujarnya.
Kritik tersebut menjadi peringatan serius agar program MBG tidak hanya mengejar jumlah distribusi, tetapi juga kualitas, keberlanjutan, dan kearifan lokal dalam menu yang disajikan.
Tuntutan Perbaikan Total
Publik kini mendesak agar kasus keracunan ini menjadi momentum perbaikan menyeluruh. Mulai dari pengetatan standar dapur penyedia, pengawasan distribusi, hingga penyusunan menu yang menyehatkan sekaligus mencerminkan kekayaan pangan Nusantara.
Jika tidak segera dilakukan, program MBG dikhawatirkan akan kehilangan kepercayaan masyarakat dan gagal mencapai tujuan utama: memperbaiki gizi anak-anak Indonesia.***