“Saya aja nista bilang itu daging olahan, saya nggak tahu itu produk apaan. Rasanya kayak karton, warnanya pink, lalu anak-anak disuruh DIY, astaga,” ujarnya.
Kritik tersebut menjadi peringatan serius agar program MBG tidak hanya mengejar jumlah distribusi, tetapi juga kualitas, keberlanjutan, dan kearifan lokal dalam menu yang disajikan.
Tuntutan Perbaikan Total
Publik kini mendesak agar kasus keracunan ini menjadi momentum perbaikan menyeluruh. Mulai dari pengetatan standar dapur penyedia, pengawasan distribusi, hingga penyusunan menu yang menyehatkan sekaligus mencerminkan kekayaan pangan Nusantara.
Jika tidak segera dilakukan, program MBG dikhawatirkan akan kehilangan kepercayaan masyarakat dan gagal mencapai tujuan utama: memperbaiki gizi anak-anak Indonesia.***
Artikel Terkait
Makan Bergizi Gratis di Sukoharjo Bikin 40 Siswa Keracunan, Badan Gizi Ungkap Fakta Mengejutkan di Baliknya
Presiden Prabowo Geram soal Isu Keracunan di Program MBG, Tegaskan ke BGN, Jangan Ada Penyimpangan Sedikit pun!
Waspadai Risiko Keracunan, DPR Minta BGN dan BPOM Tetapkan Standar Aman Tempat Makan MBG & Dukung Produk Lokal
Kejadian Keracunan Siswa Marak, DPR Desak BGN Perketat Pengawasan MBG di Lapangan untuk Cegah Kasus Serupa
Gelombang Keracunan MBG Terjadi di 6 Daerah, 251 Siswa di Banggai Kepulauan Dirawat, Publik Desak Evaluasi
13 Siswa SD dan PAUD di Cikalong Keracunan Makanan Program MBG, Dirawat Intensif