Mediapriangan.com - Kasus keracunan massal akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus meluas dan kini resmi berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) di banyak daerah.
Hingga 22 September 2025, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat 45 KLB dengan total 4.711 korban keracunan di seluruh Indonesia.
Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia bahkan menunjukkan angka yang lebih tinggi, yakni 6.452 korban. Jawa Barat tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus keracunan paling besar, menembus lebih dari 2.000 siswa terdampak.
Penutupan Dapur MBG
Menanggapi situasi ini, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, memutuskan menutup tiga dapur MBG yang terindikasi bermasalah di wilayahnya.
“Jadi yang ditutup hanya tiga dapur saja. Jangan sampai satu atau dua kasus berpengaruh terhadap dapur-dapur lain yang sudah bekerja dengan baik,” ujar Jeje di Kantor Kecamatan Cipongkor, Selasa, 23 September 2025.
Penutupan dapur ini diharapkan dapat mencegah munculnya korban baru sekaligus memperbaiki kualitas pengawasan di lapangan.
Dilema Program MBG
Program MBG yang awalnya dirancang untuk meningkatkan gizi anak sekolah kini menghadapi ujian serius.
Manfaatnya memang tak terbantahkan, tetapi lemahnya pengawasan dan penerapan standar kesehatan membuka peluang terjadinya insiden keracunan berulang.
Kondisi ini menimbulkan dilema bagi pemerintah: melanjutkan program dengan risiko yang ada, atau memperketat pengawasan agar standar keamanan pangan benar-benar dijalankan di setiap dapur dan rantai distribusi.
Baca Juga: BGN Tutup Dapur MBG Penyebab Keracunan Massal, Bentuk Tim Investigasi dan Perketat Verifikasi SPPG