Kasus Keracunan MBG Cipongkor Jadi KLB, Kepala BGN Ungkap Penyebab dan Bentuk Tim Investigasi Khusus

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 25 September 2025 | 10:59 WIB
Kasus keracunan MBG di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, membuat BGN sigap bentuk Tim Investigasi Khusus.  (Instagram/badangizinasional.ri)
Kasus keracunan MBG di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, membuat BGN sigap bentuk Tim Investigasi Khusus. (Instagram/badangizinasional.ri)

 

Mediapriangan.com - Kasus keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat dan menimbulkan keprihatinan publik. Kali ini, ratusan siswa di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat menjadi korban.

Hingga saat ini, jumlah siswa di Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat yang terdampak telah mencapai 411 orang. Sebanyak 47 siswa masih menjalani perawatan inap, sedangkan 364 lainnya diperbolehkan rawat jalan.

Pemerintah menetapkan kasus keracunan makanan MBG ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan telah membuka posko penanganan di beberapa titik untuk mempercepat pemulihan.

Baca Juga: 352 Siswa Keracunan Massal Diduga Imbas Menu MBG Tak Layak Konsumsi di KBB, Gubernur Dedi Janji Evaluasi

Fenomena keracunan akibat program MBG ini bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa pekan terakhir, insiden serupa juga dilaporkan di berbagai daerah, mulai dari Gunungkidul, Yogyakarta dengan 19 siswa terdampak, Sumbawa NTB dengan lebih dari 120 siswa, hingga Baubau, Sulawesi Tenggara yang mencatat 37 kasus. Kejadian serupa juga muncul di Lamongan, Jawa Timur serta di Kadungora, Garut, Jawa Barat.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menilai penyebab utama keracunan adalah kurangnya pengalaman mitra dapur yang menangani pesanan dalam jumlah besar.

“Rata-rata yang muncul di berita terakhir ini adalah semua satuan pelayanan yang baru melaksanakan,” ujarnya di Magelang pada 27 Februari 2025.

Baca Juga: DPR Desak BGN Libatkan Sekolah dalam Program MBG, Soroti Kasus Keracunan hingga Serapan Anggaran Rendah

Dadan menjelaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru masih perlu waktu untuk beradaptasi agar hasil masakan memiliki tingkat kematangan yang aman.

“Karena untuk bisa memasak, biasa masak 1 sampai 10 untuk bisa 1.000 sampai 3.000 butuh waktu untuk membiasakan sampai kematangannya cukup,” imbuhnya.

Saat meninjau langsung lokasi di Cipongkor, Dadan menekankan agar SPPG baru memulai layanan secara bertahap.

Baca Juga: 13 Siswa SD dan PAUD di Cikalong Keracunan Makanan Program MBG, Dirawat Intensif

“Saya meminta agar mereka di awal-awal melayani 2 sekolah dulu. Setelah terbiasa, baru naik ke 4 sekolah dan seterusnya sampai siap memenuhi seluruh daftar penerima manfaat,” terangnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X