“Lending requirement segmen kredit konsumsi dan UMSM masih meningkat seiring dengan sikap kehati-hatian bank sejalan dengan tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” tambahnya.
Hal ini membuat Pertumbuhan Kredit UMKM semakin tertekan meski kapasitas likuiditas perbankan sesungguhnya berada pada level yang kuat.
Baca Juga: Cegah Konflik Rumah Tangga, KUA Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Gelar Binwin PraNikah
Bank Indonesia mencatat rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga mencapai 29,47 persen, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga berada di angka 11,48 persen. Kredit yang belum terserap (undisbursed loan) pun masih besar, mencapai Rp2.450,7 triliun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan dana bukan menjadi persoalan utama, melainkan masih kuatnya sinyal bahwa permintaan kredit melemah di berbagai sektor usaha.
Melihat dinamika tersebut, Bank Indonesia memperkirakan Pertumbuhan Kredit UMKM dan kredit secara keseluruhan pada 2025 berada di kisaran bawah target 8–11 persen.
“BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah kisaran 8 persen hingga 11 persen,” ujar Perry Warjiyo.
Namun, ia tetap optimistis bahwa tekanan dapat mereda pada 2026, terutama bila penyesuaian suku bunga kredit berlanjut dan aktivitas ekonomi kembali menguat.***