Dalam bagian lain dari update PBNU, Rais Aam juga menegaskan bahwa PBNU akan segera menggelar muktamar sebagai bentuk upaya menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi.
Meski demikian, jadwal pasti pelaksanaan muktamar belum diuraikan secara detail.
“Untuk memastikan berjalannya roda organisasi secara normal, maka akan dilaksanakan rapat pleno atau muktamar dalam waktu segera,” jelasnya.
Sebagai informasi, pencopotan Gus Yahya terjadi meski ia masih berada dalam masa jabatan hasil Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Desember 2021, yang seharusnya berlangsung hingga 2026.
Baca Juga: Megawati Hangestri dan Strategi Potong Generasi Timnas Voli Putri Siap Guncang SEA Games 2025
Kontroversi Gus Yahya Selama Menjabat
Perjalanan Gus Yahya di PBNU tidak lepas dari berbagai dinamika dan sorotan publik. Salah satu yang paling menonjol adalah ketika acara Akademi Kepemimpinan Nasional NU menghadirkan akademisi zionis, Peter Berkowitz.
Langkah tersebut menuai kritik karena dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip NU.
Pada saat itu, Gus Yahya menyatakan bahwa ia tidak mengetahui latar belakang Peter Berkowitz sebagai seorang pro-zionis.
Baca Juga: Tapanuli Tengah dan Sibolga Jadi Perhatian Serius, BNPB Sebut Akses Terputus oleh Longsoran 50 Km!
Kasus tersebut turut memicu desakan agar dirinya mundur dari posisi Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (UI) oleh kelompok mahasiswa yang mendukung perjuangan Palestina.
Selain itu, pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo pada Agustus 2024 mengenai wacana izin konsesi tambang untuk PBNU juga sempat menjadi sorotan, menambah panjang daftar kontroversi PBNU selama masa kepemimpinannya.***