Menurut Noviardi, kekuatan utama program MBG justru terletak pada efek berantai atau multiplier effect yang dihasilkan.
“Ketika petani menerima pendapatan, mereka belanja lagi ke pedagang. Pedagang meningkatkan pasokan dari produsen. Siklus ini membuat uang berputar dua sampai tiga kali dalam ekonomi daerah. Inilah multiplier effect yang jarang dimiliki program sosial lainnya,” jelasnya.
Perputaran uang yang terjadi secara berulang ini membuat ekonomi daerah semakin dinamis dan tidak bergantung pada satu sektor saja.
Potensi Dongkrak Pertumbuhan hingga 0,7 Persen
Secara makro, program MBG diperkirakan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah hingga 0,3 sampai 0,7 persen. Dengan kondisi pertumbuhan yang sudah stabil, tambahan ini berpotensi mendorong capaian ekonomi ke level yang lebih tinggi.
Meski demikian, efektivitas stimulus fiskal ini tetap bergantung pada tata kelola yang baik. Pengawasan distribusi, kualitas bahan pangan, serta transparansi menjadi faktor kunci agar manfaatnya tidak bocor.
“Risikonya ada pada pengawasan pemasok, kualitas bahan pangan, dan transparansi distribusi. Jika itu tidak dikontrol, multiplier effect bisa bocor keluar daerah atau bahkan menimbulkan inefisiensi,” ujarnya.***