YOGYAKARTA, Mediapriangan.com - Sentra Nayantaka Batik di Bantul kini memiliki standar baru dalam menjaga kelestarian alam. Melalui kolaborasi strategis, Indonesia Financial Group (IFG) bersama para anggota holding meresmikan fasilitas IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk mengatasi persoalan zat pencemar sisa produksi.
Inovasi Instalasi Pengolahan Air Limbah hadir sebagai jawaban atas tantangan pengelolaan limbah cair yang selama ini membayangi kelangsungan industri kreatif di daerah.
Kehadiran infrastruktur ini bukan sekadar bantuan teknis, melainkan langkah nyata dalam mewujudkan industri batik berkelanjutan.
Berdasarkan hasil uji teknis, sistem ini terbukti sangat efektif karena mampu menekan kadar bahan berbahaya hingga lebih dari 90 persen.
Dengan pengolahan yang mencakup proses fisika, kimia, dan biologis, air sisa pewarnaan yang dihasilkan kini dipastikan telah memenuhi standar baku mutu lingkungan sebelum dialirkan ke saluran umum.
Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya besar perusahaan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG).
"Kami tidak hanya menghadirkan solusi lingkungan, tetapi juga mendorong peningkatan nilai tambah bagi pelaku usaha batik melalui praktik produksi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan," ujarnya saat memberikan keterangan terkait operasional fasilitas IPAL tersebut.
Keberhasilan proyek di Nayantaka Batik ini juga tidak lepas dari sinergi lintas sektor. IFG sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia merangkul Jasindo, Jasa Raharja, Jamkrindo, dan Askrindo untuk bergerak bersama pemerintah daerah.
Kolaborasi ini bertujuan memastikan bahwa aspek ekonomi UMKM dapat berjalan selaras dengan standar baku mutu lingkungan yang semakin ketat di pasar global.
Secara jangka panjang, model pengelolaan limbah cair ini diharapkan mampu mengubah perilaku para perajin agar lebih bertanggung jawab terhadap ekosistem.