DENPASAR, Mediapriangan.com - Suasana khidmat menyelimuti Vihara Buddha Sakyamuni, Denpasar, saat tokoh-tokoh lintas iman berkumpul dalam pembukaan gerakan nasional bertajuk Peluk Indonesia 2026, Sabtu (9/5/2026).
Hadir sebagai perwakilan Kementerian Agama RI, Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah, memberikan penekanan khusus pada peran vital generasi muda dalam merawat persatuan bangsa di tengah gempuran arus informasi digital.
Pemilihan Pulau Bali sebagai titik awal kegiatan ini bukan tanpa alasan. Wilayah ini dianggap sebagai representasi nyata dari keharmonisan beragam keyakinan yang hidup berdampingan.
Dalam orasinya, pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji tersebut menegaskan bahwa keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan aset, bukan beban yang harus dijauhkan.
"Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi ruang untuk saling menguatkan sebagai sesama anak bangsa," kata Gus Miftah.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan baru yang dihadapi masyarakat saat ini, yakni pergeseran gesekan sosial ke ranah virtual. Menurutnya, toleransi digital menjadi benteng utama untuk mencegah perpecahan yang dipicu oleh polarisasi di jagat maya.
Ia mengingatkan bahwa ruang digital sering kali menjadi tempat persemaian bibit-bibit pemikiran sempit yang merusak tatanan sosial.
"Salah satu intoleransi muncul itu sekarang berangkat dari digital, media sosial," bebernya saat menyinggung fenomena ketegangan antar-umat di platform daring.
Kegiatan Peluk Indonesia 2026 yang mengusung tema Beda Iman, Saling Menguatkan ini diharapkan menjadi wadah pertemuan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Di hadapan para tokoh lintas agama, Gus Miftah kembali mengingatkan bahwa pondasi keberagaman harus dijaga dengan kedewasaan berpikir, terutama oleh anak muda yang paling aktif menggunakan teknologi.
"Maka anak-anak muda harus punya kesadaran untuk menjaga bangsa ini. Terima kasih banyak-banyak," tutur Gus Miftah.