nasional

Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Tak Picu Inflasi, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Soroti Peran BBM Nonsubsidi

Rabu, 10 Juni 2026 | 16:19 WIB
Menkeu Purbaya menyebut kenaikan harga Pertamax dan BBM nonsubsidi tidak akan banyak memengaruhi inflasi nasional. (YouTube/Kemenkeu RI)

 

JAKARTA, Mediapriangan.com - Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 memunculkan berbagai respons dari masyarakat. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai perubahan harga BBM nonsubsidi tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi nasional.

Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, karakter pengguna BBM nonsubsidi berbeda dengan sektor yang memiliki pengaruh langsung terhadap distribusi barang dan jasa. Karena itu, kenaikan harga Pertamax dinilai tidak akan memicu kenaikan biaya logistik yang berujung pada tekanan inflasi.

Ia menjelaskan bahwa kendaraan angkutan barang umumnya tidak menggunakan Pertamax maupun Pertamax Green sebagai bahan bakar utama. Dengan kondisi tersebut, efek kenaikan harga Pertamax terhadap rantai distribusi barang diyakini relatif terbatas.

Baca Juga: Ekonom INDEF Dorong Indonesia Masuki Tatanan Ekonomi Baru, Evaluasi Total Strategi Pembangunan Nasional

“Dampaknya harusnya relatif minim, karena Pertamax enggak dipakai buat angkutan barang,” ujar Purbaya saat ditemui awak media di kompleks Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu, 10 Juni 2026.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons atas kekhawatiran sebagian pihak mengenai kemungkinan kenaikan inflasi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian. Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa sektor transportasi umum maupun distribusi logistik tidak banyak bergantung pada Pertamax Green maupun Pertamax.

“Dampaknya ke inflasi harusnya limited, karena kan bukan buat angkutan umum kan. Angkutan barang juga nggak pakai (Pertamax),” ucapnya.

Baca Juga: Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Asusila di Karawang, Video Viral Picu Keresahan Warga

Meski demikian, perhatian publik juga tertuju pada kemungkinan bertambahnya konsumsi BBM subsidi akibat kenaikan harga Pertamax. Sejumlah pihak menilai sebagian pengguna BBM nonsubsidi berpotensi beralih ke Pertalite karena selisih harga yang semakin lebar.

Menanggapi potensi tekanan terhadap kuota Pertalite, Purbaya Yudhi Sadewa menyerahkan pembahasan tersebut kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Menurutnya, pemerintah memiliki mekanisme tersendiri untuk mengawasi distribusi bahan bakar bersubsidi.

“Itu nanya ke Pak Bahlil, mesti ada metode lagi. Nozzle control kalau enggak salah, nanya Pak Bahlil yang ngerti,” jawabnya singkat.

Baca Juga: Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384, IKANESACIS Ajak Warga Guyub Ngawangun Galuh untuk Kemajuan Daerah

Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga telah mengumumkan harga BBM terbaru 2026 yang berlaku mulai 10 Juni. Dalam penyesuaian tersebut, kenaikan harga Pertamax menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini