Nanik Deyang Ungkap Sisi Gelap di Balik Kursi Kepala BGN, Anggaran Jumbo hingga Teror Kanan-Kiri

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 23 Juli 2026 | 21:41 WIB
Nanik Deyang mengungkap tekanan selama memimpin BGN. Anggaran besar disebut membuatnya trauma, sementara teror membuatnya memilih mengganti nomor HP. (Dok. BGN)
Nanik Deyang mengungkap tekanan selama memimpin BGN. Anggaran besar disebut membuatnya trauma, sementara teror membuatnya memilih mengganti nomor HP. (Dok. BGN)

 

JAKARTA, Mediapriangan.com - Keputusan Nanik Deyang meninggalkan posisi Kepala BGN ternyata tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan. Dalam pengakuannya, Nanik mengungkap sejumlah tekanan yang ia rasakan selama sekitar 45 hari memimpin lembaga yang bertanggung jawab terhadap tata kelola program Makan Bergizi Gratis.

Nanik sebelumnya menyatakan mundur dari jabatan Kepala BGN untuk menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri. Keputusan tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dan mendapat persetujuan.

Kini, posisi Kepala BGN telah beralih kepada Sudaryono yang resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Baca Juga: Sebelum Mundur dari Kepala BGN, Nanik Deyang Ungkap Stres Kelola Anggaran Jumbo hingga Alami Gangguan Jantung

Di tengah pergantian kepemimpinan tersebut, cerita Nanik mengenai pengalamannya memimpin BGN kembali menjadi sorotan. Ia mengaku salah satu beban terbesar justru datang dari tanggung jawab mengelola anggaran negara dalam jumlah besar.

Bagi Nanik, anggaran negara bukan sekadar persoalan administratif. Ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap rupiah yang bersumber dari uang rakyat digunakan sesuai aturan.

"Kekacauan di BGN mungkin meski berat, saya masih bisa atasi," tulisnya dalam postingan Facebook pribadi, Naniek Sudaryati Deyang, pada Rabu, 22 Juli 2026.

"Tapi memegang anggaran besar itu yang membuat saya trauma," sambungnya.

Baca Juga: Dilantik Jadi Kepala BGN, Sudaryono Janji Benahi Tata Kelola dan Tegaskan Zero Tolerance Praktik Korupsi

Tekanan tersebut disebut membuat Nanik mengalami kecemasan. Ia mengaku kerap memikirkan risiko yang mungkin terjadi apabila terdapat kesalahan dalam pengelolaan anggaran negara.

"Saya sampai gak bisa tidur kalau ingat ini duit negara, duit rakyat harus benar dijalankan dan tidak boleh saya kecolongan," jelasnya.

Untuk menggambarkan beratnya tanggung jawab tersebut, Nanik menggunakan perumpamaan berada di lokasi berbahaya. Menurutnya, mengelola anggaran negara membutuhkan kehati-hatian ekstra karena kesalahan kecil dapat membawa konsekuensi besar.

"Menjaga uang besar agar tersalurkan dengan benar seperti berdiri di tebing jurang yang curam. Meleng sedikit bisa terjerembab," ungkapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X