JAKARTA, Mediapriangan.com - Akses layanan kesehatan menjadi salah satu persoalan yang masih dihadapi pekerja di Indonesia. Temuan tersebut tergambar dalam laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 yang dirilis Halodoc for Business berdasarkan data lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan sepanjang kuartal pertama 2026.
Laporan tersebut memberikan gambaran mengenai pola penyakit, perilaku pemanfaatan layanan, hingga pengeluaran kesehatan tenaga kerja Indonesia. Data yang dihimpun berasal dari lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 dan mencakup lebih dari 30 sektor industri.
Temuan ini memperlihatkan bahwa tantangan kesehatan karyawan bukan semata soal tingkat kesadaran. Dalam banyak kasus, akses yang tidak mudah justru dapat membuat pekerja menunda pemeriksaan atau pengobatan.
Halodoc for Business menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian perusahaan ketika merancang benefit kesehatan. Pendekatan yang seragam dinilai tidak selalu mampu menjawab kebutuhan seluruh kelompok pekerja karena risiko kesehatan dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, hingga kondisi medis.
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan perusahaan perlu melihat kesehatan karyawan berdasarkan data agar intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan.
“Aset paling berharga sebuah perusahaan adalah sumber daya manusianya dan saat ini, banyak perusahaan Indonesia masih mengelola kesehatan karyawan secara reaktif, tanpa data yang memadai untuk memahami di mana risiko sesungguhnya berada. Indonesia Health Benefit Insights Report 2026 hadir untuk mengubah itu,” ucap Fibriyani.
Baca Juga: Dampak Kemarau di Kota Tasikmalaya, Kasus ISPA Tembus 6.811 Balita dan Anak, Dinas Kesehatan Waspada
“Laporan ini bukan hanya tentang angka kesehatan, ini adalah cermin untuk melihat profil kesehatan tenaga kerjanya secara nyata, dan dasar untuk merancang strategi yang benar-benar tepat sasaran dan relevan dengan
kebutuhan,” lanjutnya.
Dalam laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026, Halodoc for Business menemukan bahwa profil penyakit tenaga kerja mengalami perubahan seiring pertambahan usia. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa strategi benefit kesehatan perlu disesuaikan dengan karakteristik kelompok pekerja.
Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, menjelaskan bahwa jenis penyakit yang dominan pada kelompok pekerja muda berbeda dengan kelompok usia yang lebih tua.
Baca Juga: Cetak Tenaga Kesehatan Berkualitas, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Wisuda 272 Lulusan
“Data dari lebih dari 1 juta transaksi kesehatan karyawan yang tercatat oleh ekosistem kami menemukan bahwa profil penyakit tenaga kerja Indonesia berubah secara konsisten seiring usia, dari infeksi saluran pernapasan akut pada kelompok muda, gangguan muskuloskeletal akibat aktivitas kerja pada usia produktif 30–49 tahun, hingga penyakit kardiovaskular dan kanker yang mendominasi biaya pada kelompok usia 50 tahun ke atas,” jelasnya.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan gender. Dalam data yang dipaparkan, 81 persen pasien kardiovaskular merupakan laki-laki, sedangkan 72 persen pasien kanker adalah perempuan.
Artikel Terkait
Terseret Arus di Pantai Pangandaran, Wisatawan Asal Bandung Ditemukan Meninggal Dunia
Maraton 49 Hari, GP Ansor Tasikmalaya Tuntaskan Konferancab di 39 Kecamatan
Heboh! KPK OTT Bupati Lombok Barat, 19 Orang Terjaring, Uang Ratusan Juta Disita
Debit Air Situ Gede Surut Drastis, 250 Hektare Lahan Pertanian di Kota Tasik Terancam Kekeringan
SPMB 2026 Masih Sisakan Masalah, DPRD Jabar Soroti Minim Sosialisasi hingga Program Sekolah Maung
Tempat Jogging Paling Adem di Depok, Universitas Indonesia Jadi Favorit untuk Olahraga Minggu Pagi
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Ditahan, Pakar Hukum Soroti Dugaan Tebang Pilih
Hotman Paris Minta Maaf ke Wartawan soal Ucapan Kontroversial, Ungkap Alasan Emosi saat Ditanya Kasus Febrie
Hotman Paris Buka Suara soal Tuduhan Ambil Angpao Nikahan Fritz, Ungkap Asal Uang Rp800 Juta
Hotman Paris Bantah Benny Janah Simpanan Febrie Adriansyah, Ungkap Momen Pertemuan Pertama Keduanya