“Kalau terpaksa harus buka laptop dan bekerja, bisa tetap di bangku tempatnya dia duduk sesuai nomor atau kalau kurang lega, bisa di atas kereta dekat kabel-kabel,” lanjutnya.
Saran lain yang juga ramai dibahas adalah pembatasan waktu penggunaan meja hingga penghapusan fasilitas colokan listrik di area restorasi.
“Di meja restorasi udah ditempeli stiker untuk ga kerja/pakai laptop di restorasi, tapi baru imbauan aja, bukan larangan,” tulis akun @dis*****l.
“Nah segera dikaji ya larangan buka laptop di gerbong restorasi atau kerja. Dan mungkin dibatasi maksimal 30-60 menit,” tulis akun @v.i****t.
“Jangan kasih colokan listrik, coba deh perhatikan orang yang lama di restorasi sebagian besar sambil cas laptop atau HP. Tidak tersedianya colokan listrik di restorasi itu bisa mengurangi orang yang nganggap kereta makan itu co-working space,” tulis akun @fan****1.
Baca Juga: Korban Aniaya di Bandung Sempat Ancam Tak Pulang Lagi, Pesan Terakhir YTR Bikin Keluarga Terpuk
Menanggapi polemik tersebut, pihak KAI menegaskan bahwa restorasi kereta memang diperuntukkan sebagai fasilitas bersama untuk menikmati makanan dan minuman selama perjalanan.
“Kami memahami bahwa suasana restorasi yang nyaman kerap dimanfaatkan oleh sebagian pelanggan untuk bekerja. Namun demikian, kami mengimbau agar penggunaan ruang restorasi dilakukan secara bergantian, terutama pada saat kondisi penumpang padat,” ujar pihak KAI dalam keterangan tertulis pada Selasa, 23 Juni 2026.
“Mohon kerja samanya agar tidak menggunakan meja restorasi selain untuk keperluan makan dan minum. Serta menurut informasi telah ditindaklanjuti oleh kondektur,” tukasnya.***