Dedi Mulyadi memang pernah mengambil keputusan besar dengan meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Gerindra pada 2023. Namun konteks tersebut berbeda dengan situasi KDM hari ini. Perpindahan dari Golkar tidak bisa begitu saja dijadikan dasar bahwa KDM akan mudah meninggalkan Gerindra apabila ada partai lain yang menawarkan tiket Pilpres 2029.
Kini terdapat hubungan politik yang berbeda antara KDM dengan Prabowo. Gerindra menjadi rumah politik yang mengantarkannya pada fase penting dalam karier politiknya, termasuk kemenangan sebagai Gubernur Jawa Barat.
“Jangan samakan ketika KDM keluar dari Golkar dengan posisinya bersama Prabowo hari ini. Konteksnya sangat berbeda. Sekarang ada kepercayaan, komitmen dan perjalanan politik bersama,” kata Agus.
Baca Juga: DPR Soroti 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia, Diduga Tergiur Iming-iming Gaji Besar
Karena itu, skenario KDM meninggalkan Gerindra kemudian maju sebagai penantang Prabowo memang mungkin secara politik, tetapi belum tentu menjadi pilihan yang paling masuk akal. Ada skenario yang jauh lebih menarik.
KDM sebenarnya tidak perlu mengalahkan Prabowo untuk membuka jalan menuju kursi presiden. Ia hanya perlu menunggu. Jika Prabowo maju kembali pada 2029, KDM bisa tetap mendukungnya. Tetapi jika Prabowo memutuskan tidak maju, situasinya berubah total.
KDM bisa menjadi salah satu kandidat yang paling siap menerima estafet politik tersebut. “KDM tidak perlu melawan Prabowo untuk menjadi presiden. Kalau Prabowo maju, dia bisa menunggu. Kalau Prabowo tidak maju, KDM sudah berada dalam posisi yang sangat siap,” ujar Agus.
Dalam skenario tersebut, restu Prabowo justru jauh lebih berharga dibanding KDM harus mencari kendaraan politik baru. KDM tidak perlu meninggalkan Gerindra, tidak perlu membangun mesin politik dari nol dan tidak perlu berhadapan langsung dengan figur yang selama ini menjadi pemimpin partainya. Ia justru bisa tampil sebagai bagian dari regenerasi politik Gerindra setelah Prabowo.
Jangan Terjebak Angka Survei
Tantangan KDM sekarang justru bagaimana tidak terjebak dengan angka survei. Popularitas yang terlalu cepat diterjemahkan menjadi ambisi Pilpres bisa menjadi bumerang. Kekuatan KDM hari ini muncul karena publik melihat dirinya bekerja. Gaya komunikasinya langsung, aktivitasnya di lapangan tinggi, dan media sosial membuat masyarakat merasa dekat dengan cara KDM memimpin.
Jika seluruh aktivitas tersebut terlalu cepat dikaitkan dengan Pilpres 2029, persepsi publik bisa berubah. Kerja pemerintahan dapat dianggap sebagai kampanye. Karena itu, strategi paling menguntungkan bagi KDM sebenarnya sederhana: fokus pada Jawa Barat.
Biarkan survei yang berbicara. Biarkan masyarakat yang mendorong. Dan biarkan momentum politik datang dengan sendirinya. Jika elektabilitas KDM tetap tinggi hingga 2028 atau 2029, pertanyaan politiknya bisa berbalik.
Baca Juga: Viral MBG Anak TK di Bogor Pakai Minuman Rasa Susu, Kandungan Air 86 Persen Jadi Sorotan
Bukan lagi apakah KDM berani melawan Prabowo. Tetapi apakah Prabowo akan maju kembali ketika terdapat kadernya sendiri yang memiliki peluang elektoral sangat besar?