Waktu Respons Bisa Hanya 5 hingga 10 Detik
Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus kepala tim riset gabungan Indonesia, Andi Eka Sakya, menyebut inisiatif tersebut berpotensi menjadi terobosan dalam penyebaran informasi kebencanaan.
Namun, ia menegaskan bahwa teknologi ini masih berada pada tahap prototipe dan belum digunakan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat secara luas.
“Ini masih berupa prototipe, dan mereka belum mengeluarkan peringatan kepada masyarakat umum," tutur Andi.
Andi menjelaskan, warga yang berada sekitar 50 kilometer dari pusat gempa mungkin hanya memiliki waktu sekitar lima hingga 10 detik untuk merespons setelah gelombang gempa terdeteksi.
Rentang waktu yang singkat itu menunjukkan pentingnya kecepatan dalam menyampaikan informasi.
Karena itu, pengembangan peringatan dini gempa tidak hanya bergantung pada kemampuan sensor mendeteksi aktivitas seismik, tetapi juga pada efektivitas penyebaran peringatan kepada masyarakat.
Sekolah dan Media Siaran Ikut Dikaji
Penelitian ini tidak terbatas pada pengeras suara masjid. Tim juga mempelajari kemungkinan memanfaatkan pengeras suara di sekolah, serta siaran radio dan televisi sebagai bagian dari jaringan penyebaran informasi darurat.
Jika pengujian menunjukkan hasil yang memadai, berbagai saluran tersebut berpotensi saling melengkapi untuk menjangkau lebih banyak warga ketika terjadi gempa bumi.
Meski begitu, penerapan sistem alarm gempa ini masih membutuhkan pengembangan dan pengujian lebih lanjut sebelum dapat digunakan secara luas.
Hingga tahap tersebut tercapai, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang mengenai potensi gempa dan langkah keselamatan yang harus dilakukan.***