Mediapriangan.com – K.H. Ahmad Sanusi merupakan tokoh atau ulama dari Jawa Barat yang dianugerahi Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 2022.
Nama Ahmad Sanusi tokoh asal Jawa Barat ini, masuk dalam daftar lima tokoh yang diberi gelar pahlawan nasional pada tahun ini.
Gelar Pahlawan Nasional ini akan diserahkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, pada 7 November 2022.
Baca Juga: Tarif Cukai Rokok Naik 10 Persen Pada 2023 dan 2024, Simak Penjelasannya
Selain Ahmad Sanusi, ada empat tokoh lain yang akan diberi gelar Pahlawan Nasional, yaitu yaitu DR. dr. H. R. Soeharto dari Jawa Tengah, KGPAA Paku Alam VIII dsri DI Yogyakarta, dr. Raden Rubini Natawisastra dari Kalimantan Barat, dan H. Salahuddin bin Talibuddin dari Maluku Utara.
Kelimanya merupakan tokoh bangsa yang telah ikut berjuang mendirikan negara Republik Indonesia. Yang dipilih berdasarkan usulan masyarakat dan telah melalui sejumlah proses seleksi.
Untuk mengenal lebih dekat sosok K.H. Ahmad Sanusi dari Jawa barat, berikut informasi profilnya. Dirangkum mediapriangan.com dari berbagai sumber.
Baca Juga: Katarak Di Kabupaten Tasikmalaya menjalar, IDI turun Lakukan Operasi Gratis
Ahmad Sanusi adalah putera dari Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin, pengasuh Pesantren Cantayan di Sukabumi. Lahir pada 18 September 1888 di Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, Cibadak, Kabupaten Sukabumi.
Ia dikenal dengan sebutan Kiai Haji Ahmad Sanusi atau Ajengan Cantayan atau Ajengan Genteng atau Ajengan Gunungpuyuh.
Sebagai putera seorang ajengan, ia telah belajar ilmu-ilmu keislaman sejak masih kanak-kanak. Ia juga banyak belajar dari para santri senior di pesantren ayahnya.
Baca Juga: Menonton Film Horor Bermanfaat Bagi Kesehatan, Kok Bisa?
Pada usia 20 tahun, Ahmad Sanusi menikah dengan Siti Juwariyah binti Haji Afandi yang berasal dari Kebon Pedes, Baros, Sukabumi. Kemudian setelah menikah, ia dikirim ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu-ilmu agama islam.
Selama di Mekah, Ahmad Sanusi berguru kepada ulama-ulama terkenal, khususnya dari kalangan al-Jawi (Melayu). Ia mendapat gelar imam besar Masjidil Haram.