Budi juga menjelaskan bahwa untuk mendukung kemajuan sektor pertanian, di Ciamis telah dibentuk “Paguyuban Petani Milenial.”
Paguyuban ini bertujuan untuk memperkuat jejaring antara petani muda di berbagai sektor pertanian, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, hingga peternakan.
Dengan adanya wadah ini, diharapkan para petani milenial dapat lebih mudah mengakses informasi, berbagi pengalaman, serta meningkatkan daya saing mereka di pasar global.
“Kita semua harus mendukung pemuda untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam menerapkan teknologi serta metode pertanian yang lebih efisien, agar produk yang dihasilkan berkualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar global,” terang Budi Waluya.
Sebagai penutup, Pj. Bupati Ciamis berharap seminar ini tidak hanya memberikan pengetahuan yang bermanfaat, tetapi juga dapat mendorong partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan.
“Mari kita bersama-sama menjawab tantangan di sektor pertanian dengan melibatkan lebih banyak petani muda dan memanfaatkan teknologi untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan di Kabupaten Ciamis,” tutup Budi.
Wakil Rektor I Universitas Galuh Ciamis, Agus Yuniawan Isyanto, menyoroti bahwa masalah regenerasi petani adalah persoalan global, yang juga dialami oleh banyak negara maju di Eropa, Asia, dan Amerika.
Menurut Agus, regenerasi petani yang terus menurun berdampak pada kelangsungan sektor pertanian, yang sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda untuk menggantikan petani yang lebih tua.
“Isu regenerasi petani ini sudah menjadi tantangan global, yang juga dialami oleh negara-negara maju. Tanpa adanya regenerasi yang baik, sektor pertanian akan semakin terpinggirkan dan tidak dapat berkembang secara maksimal,” ujar Agus.
Agus juga menyoroti fenomena penuaan pada petani yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data sensus pertanian tahun 2023, jumlah petani yang berusia tua terus meningkat, sementara jumlah petani milenial yang terjun ke sektor pertanian terus menurun.
“Data ini menunjukkan bahwa sektor pertanian semakin kehilangan daya tarik bagi generasi muda. Jika masalah ini tidak segera diatasi, kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian akan semakin menurun,” jelasnya.***
Artikel Terkait
A.M. Hendropriyono Jadi Tokoh Berjasa Bebaskan Jusuf Hamka 37 Tahun Lalu, Terkait Tuduhan Pembajakan Pesawat Garuda
Roadshow Journalism 360 Promedia Hadir di Medan pada 22-23 Januari 2025, Soroti Dunia Content Creator dan Bisnis Media Digital
PBNU dan Baznas Bahas Usulan Zakat untuk Program Makan Bergizi Gratis, Pro dan Kontra Muncul
Istana Kepresidenan Sebut Usulan DPD Soal Zakat untuk Danai Program Makan Bergizi Gratis Tidak Tepat, Memalukan!
Pro-Kontra Pembelajaran Selama Ramadan, Skema Baru Pemerintah Prabowo serta Sejarah Panjang Libur Puasa di Indonesia
Muhammadiyah Setuju Libur Sekolah Selama Ramadan, Momentum Perkuat Akhlak dan Pendidikan Karakter Siswa
Tidak Libur! Konsep Pembelajaran Selama Ramadan Segera Diumumkan, Surat Edaran Rampung dalam Waktu Dekat
Surat Edaran Pembelajaran Ramadan 2025 Segera Resmi Diumumkan, Tidak Ada Libur Sekolah Sebulan Penuh
Satryo Soemantri Brodjonegoro, Menteri yang Dituding Arogan, Lahir di Belanda hingga Raih Penghargaan dari Jepang
BTN Akuisisi Bank Victoria Syariah: Langkah Strategis Menuju Bank Umum Syariah Baru yang Kompetitif