Dipanggil Polisi Soal MBG Kalibata, Yayasan MBN Akhirnya Ungkap Alasan di Balik Perbedaan Harga yang Jadi Sorotan

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Selasa, 6 Mei 2025 | 09:36 WIB
Yayasan MBN menjelaskan tentang perbedaan harga porsi MBG.  (Instagram.com/badangizinasional.ri)
Yayasan MBN menjelaskan tentang perbedaan harga porsi MBG. (Instagram.com/badangizinasional.ri)

 

Mediapriangan.com - Mitra dapur MBG Kalibata mempermasalahkan tentang perbedaan harga porsi Makan Bergizi Gratis dengan Yayasan Media Bakti Nusantara (MBN).

Diklaim oleh pengacara dapur MBG Kalibata, Danna Harly, dalam kontrak antara Ira dengan Yayasan MBN, harga makanan tiap porsi untuk semua jenjang adalah Rp15.000.

Namun, saat program berjalan, yayasan menurunkan harga secara sepihak menjadi Rp13.000 untuk PAUD, TK, dan SD kelas 1 hingga 3 setiap porsinya.

Baca Juga: Kasus MBG Kalibata Memanas, Yayasan MBN Diperiksa Polisi, 20 Pertanyaan Dijawab Lantang Pakai Data Lengkap!

Sedangkan untuk kelas 4 hingga 6, harga makanannya adalah Rp15.000.

Harga baru tersebut juga masih dipangkas Rp2.500, sehingga pihak dapur hanya mendapatkan harga makanan Rp10.500 per porsi.

Pihak Yayasan MBN yang baru saja dipanggil ke Mapolres Jakarta Selatan terkait laporan Ira Mesra, pengelola dapur MBG Kalibata menjelaskan tentang perbedaan harga tersebut.

Baca Juga: Isu KDRT Baim Wong Terhadap Paula Verhoeven Dibantah Kuasa Hukum, Tak Ada Bukti yang Kuat di Persidangan

“Kalau masalah harga, itu sudah jelas di dalam kontrak dari Yayasan ke BGN paling tinggi Rp15.000 sudah ada dan itu kan dari SPPG tentang gramasi, tentang titik-titik sudah ada,” kata kuasa hukum Yayasan MBN, Timoty Ezra Simanjuntak kepada media pada Jumat, 2 Mei 2025.

Timoty kemudian menjelaskan bahwa setiap minggunya selalu diberi informasi mengenai menu dan lokasi penyebarannya.

“Setiap pekan itu dikasih berapa menu, berapa titik lokasi yang mau diantar, distribusi sudah ada, gitu,” imbuhnya.

Baca Juga: Pasca Viral 'Gubernur Konten', Dedi Mulyadi Minta Rudi Masud Buka Pintu untuk Petani dan Nelayan Jabar di Kaltim

“Mau TK, mau SMA, mau SD sudah ada, jadi kalau nanti ada perbedaan, itu menyesuaikan, jadi ada bahasa paling tinggi,” jelasnya lagi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X