Menjemput Oktober dengan Spirit Sejarah, DKKT Tasikmalaya Gagas 'Situ Gede Art Festival'

photo author
Dede Farhan Kamil, Media Priangan
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 17:27 WIB
Ketua DKKT Tasikmalaya Tatang Pahat gagas Situ Gede Art Festival di ajang Hari Jadi Kota Tasikmalaya Oktober mendatang. (By AI)
Ketua DKKT Tasikmalaya Tatang Pahat gagas Situ Gede Art Festival di ajang Hari Jadi Kota Tasikmalaya Oktober mendatang. (By AI)

TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - “Ada dahulu ada sekarang. Bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang.” Petuah yang terukir dalam itu bukan sekadar jejak batu. Ia adalah pengingat bahwa masa lalu adalah tonggak, dan hari ini adalah batang yang tumbuh darinya.

Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Tasikmalaya pada Oktober mendatang, semangat prasasti tersebut kembali digaungkan. Dewan Kesenian dan Kebudayaan Tasikmalaya (DKKT) menggagas sebuah peristiwa budaya bertajuk “Situ Gede Art Festival”, yang direncanakan berlangsung di kawasan.

Ketua DKKT Tasikmalaya, Tatang Pahat, menuturkan, festival ini bukan sekadar tontonan, melainkan ruang pemaknaan.

“Spirit Prasasti Geger Hanjuang mengajarkan kita bahwa sejarah adalah pijakan. Dari sana kita belajar membaca hari ini dan menyiapkan masa depan. Situ Gede Art Festival ingin menghadirkan kesadaran itu dalam bahasa seni yang hidup dan membumi,” ujar Tatang, Sabtu (28/2/2026).

Baca Juga: Wali Kota Viman Resmikan Tatang Pahat sebagai Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya 2025-2030

Meramu Antropologi, Sosiologi, dan Local Genius

Menurut Tatang, festival ini dirancang dengan pendekatan antropologi dan sosiologi, menggali habit, tradisi, folklor, mitologi, hingga sejarah lokal Tasikmalaya sebagai bahan baku kreatif. Seluruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa “perform” — bahasa simbolik panggung yang tidak menggurui, namun mengajak penonton merasakan dan memaknai.

Tubuh penari, syair lagu, artistik panggung, kesenian tradisi, hingga sentuhan kontemporer akan dirajut dalam satu kesatuan estetik. Hasilnya diharapkan melahirkan peristiwa budaya yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga “menggigit” secara makna.

“Budaya itu riil dan hidup di tengah masyarakat. Tugas seni adalah menangkap energi realitas itu, lalu memanggungkannya dengan keluesan estetika. Jadi bukan sekadar hiburan, melainkan ruang dialog,” jelasnya.

Baca Juga: Kekuatan Seni dan Budaya Penjaga Tata Nilai yang Mulai Terkikis, Ketua DKKT Tatang Pahat Bicara Lantang

Situ Gede: Ruang Magis yang Belum Tersentuh Maksimal

Pemilihan Situ Gede bukan tanpa alasan. Selain dikenal sebagai destinasi wisata, kawasan ini menyimpan nilai historis dan kearifan lokal yang turut membentuk identitas Tasikmalaya hari ini.

Bagi DKKT, Situ Gede adalah ruang strategis yang belum digarap secara maksimal sebagai panggung budaya berskala kota. Festival ini diharapkan menjadi gerbang pembuka kebangkitan budaya Tasikmalaya yang selama ini dinilai stagnan.

“Situ Gede punya daya magis. Ia bukan hanya tempat rekreasi, tapi ruang sejarah dan ruang batin masyarakat Tasik. Di sana ada memori kolektif yang perlu kita hidupkan kembali,” tutur Tatang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X