Tangisan Gadis Kecil di Bali Usai Ayahnya Tewas Dikeroyok Massa, UAS: Itu Anak Kita

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Senin, 27 Juli 2026 | 16:37 WIB
Gadis kecil di Bali menangisi ayahnya yang tewas dikeroyok massa. UAS ikut menyoroti tragedi itu dan mengingatkan bahaya main hakim sendiri.   (Instagram.com/@ustadzabdulsomad_official)
Gadis kecil di Bali menangisi ayahnya yang tewas dikeroyok massa. UAS ikut menyoroti tragedi itu dan mengingatkan bahaya main hakim sendiri. (Instagram.com/@ustadzabdulsomad_official)

 

BALI, Mediapriangan.com - Tangisan seorang gadis kecil saat mengantarkan jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir menggugah perhatian publik. Peristiwa memilukan itu terjadi setelah sang ayah meninggal dunia akibat dikeroyok massa di Bali.

Video yang memperlihatkan gadis kecil tersebut menangisi kepergian ayahnya kemudian beredar luas di media sosial. Momen itu membuat kasus yang menimpa keluarganya kembali menjadi sorotan dan memunculkan keprihatinan terhadap tindakan main hakim sendiri.

Gadis kecil tersebut merupakan putri bungsu korban berinisial IKD. Ia terlihat terus memanggil ayahnya ketika jenazah hendak dimakamkan di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Baca Juga: Viral Anak Menangis Lihat Ayah Tewas Dikeroyok di Bali, Polisi Selidiki Dugaan Pencurian dan Pengeroyokan

Tragedi tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. IKD diketahui meninggalkan seorang istri dan tiga anak, termasuk gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Perhatian terhadap kasus ini semakin meluas setelah Ustaz Abdul Somad atau UAS ikut menyampaikan keprihatinannya. Melalui akun Instagram resminya, @ustadzabdulsomad_official, Senin, 27 Juli 2026, UAS menyoroti kematian IKD yang diduga terjadi setelah menjadi sasaran amukan warga.

UAS menegaskan bahwa dugaan pencurian tidak dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan nyawa seseorang. Ia juga mengajak masyarakat melihat tragedi tersebut dari sisi kemanusiaan, terutama dampak yang harus ditanggung keluarga korban.

Baca Juga: Istri Pria Tewas Dikeroyok di Bali Ungkap Suami 3 Hari Tak Pulang, Diduga Cari Uang untuk Bayar Sekolah Anak

"Gadis kecil itu anak kita. Keponakan kita. Adik kita. Mencuri ayam tidak benar. Tapi ayam dibayar dengan nyawa tidak bisa dibenarkan," tulis UAS dalam postingannya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan perhatian UAS terhadap nasib gadis kecil yang kehilangan sosok ayah. Menurutnya, persoalan hukum semestinya diselesaikan melalui jalur yang berlaku, bukan dengan tindakan main hakim sendiri.

UAS juga mempertanyakan persoalan sosial yang dapat mendorong seseorang melakukan pencurian. Ia menyinggung kondisi ekonomi masyarakat di tengah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.

Baca Juga: Kementerian HAM Soroti Kasus Pengeroyokan di Bali, Terduga Maling Ayam Tewas dan Keluarga Korban Didampingi

"Mengapa saudara kita mencuri? Di tengah negeri gemah ripah loh jinawi. Emas, nikel, minyak dan gas melimpah," ungkap UAS.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X