Rating Bank BJB Turun, NPL Tembus 3,3 Persen dan Pencadangan Makin Tertekan

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Minggu, 13 September 2026 | 15:02 WIB
Suasana salah satu kantor layanan Bank BJB. NPL Bank BJB mencapai 3,3 persen pada Juni 2026, sementara rasio pencadangan berada di 85,8 persen.  (Dok Bank BJB)
Suasana salah satu kantor layanan Bank BJB. NPL Bank BJB mencapai 3,3 persen pada Juni 2026, sementara rasio pencadangan berada di 85,8 persen. (Dok Bank BJB)

 

BANDUNG, Mediapriangan.com - Penurunan rating Bank BJB dari idAA menjadi idAA- pada September 2026 menjadi perkembangan yang tidak berdiri sendiri. Sebelum keputusan tersebut diumumkan, sejumlah indikator kredit perseroan telah menunjukkan peningkatan tekanan.

Data keuangan Bank BJB hingga pertengahan 2026 memperlihatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) terus bergerak naik. Pada Juni 2026, PEFINDO mencatat NPL Bank BJB mencapai 3,3 persen.

Angka tersebut meningkat dari 2,8 persen pada Desember 2025 dan 2,2 persen pada Desember 2024.

Baca Juga: Rating Bank BJB Turun Jadi idAA-, NPL Naik dan PEFINDO Soroti Tekanan Kualitas Aset

Tren serupa sebenarnya sudah terlihat sejak kuartal I 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026 yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, NPL gross tercatat 2,96 persen, naik dari 2,78 persen pada akhir 2025.

Sementara NPL net meningkat dari 1,21 persen menjadi 1,31 persen.

"Penurunan peringkat mencerminkan tekanan yang berkelanjutan terhadap profil keuangan Bank, terutama kualitas aset," tulis PEFINDO dalam publikasi resminya, Minggu 13 September 2026.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Kredit Bank BJB KCK Banten Terbongkar, Dokumen Fiktif Picu Kerugian Negara Rp8,7 Miliar

Kredit Bermasalah Mendekati Rp4 Triliun

Jika rasio NPL sebesar 3,3 persen dibandingkan dengan kredit bruto Bank BJB yang mencapai Rp140,37 triliun pada Juni 2026, nilai kredit bermasalah secara indikatif berada di sekitar Rp4,63 triliun.

Perhitungan tersebut merupakan estimasi berdasarkan rasio NPL dan total kredit yang dipublikasikan PEFINDO, bukan angka nominal kredit bermasalah yang disebutkan secara langsung dalam rilis pemeringkatan.

Dalam laporan keuangan Maret 2026, nilai kredit bermasalah konsolidasian tercatat sekitar Rp3,81 triliun. Jumlah itu meningkat dibandingkan sekitar Rp3,59 triliun pada Desember 2025.

Penyebaran kredit bermasalah juga tidak hanya terjadi pada satu sektor ekonomi. Pada Maret 2026, kategori lain-lain mencatat nilai terbesar sekitar Rp1,32 triliun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X