TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kesehatan resmi memindahkan arah kebijakan kesehatan nasional. Pendekatan yang selama ini berfokus pada pengobatan (kuratif) kini digeser secara masif ke arah pencegahan (preventif) dan deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, saat menggelar kunjungan kerja bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus di RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya, pada Selasa (22/9/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari maraton sosialisasi dan monitoring CKG di 29 provinsi, termasuk safari lintas daerah Priangan Timur mulai dari Pangandaran, Banjar, Ciamis, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, hingga Garut.
Pergeseran paradigma pelayanan kesehatan dari hilir ke hulu ini didasari dua tantangan besar kesehatan nasional yaitu tingginya angka penularan Tuberkulosis (TB) dan melonjaknya penderita gagal ginjal kronis di usia muda akibat penyakit degeneratif yang tidak terdeteksi.
Baca Juga: Kasus TB Kota Tasikmalaya Tembus 1.306 Orang, Dinkes Temukan Ribuan Suspek hingga Mei 2026
Putus Rantai Penularan TB Melalui Terapi Pencegahan
Dalam penanganan Tuberkulosis (TB), Wamenkes mengapresiasi kinerja fasilitas kesehatan yang berhasil mendongkrak penemuan kasus TB secara nasional dari 48 persen pada 2020 menjadi 80 persen (867 ribu kasus teridentifikasi) pada tahun lalu.
Wamen menyebutkan, Jawa Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan performa penanganan TB terbaik. Walaupun kata dia, angka penularan TB di Jawa Barat dinilai masih tinggi karena penanganan selama ini berfokus pada pasien yang sudah terlanjur sakit.
Untuk memutus rantai penularan secara drastis, kata dia, dalam tiga tahun ke depan Kemenkes menggenjot skema Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat, khususnya mereka yang tinggal serumah dengan penderita.
"Kenapa kasus TB masih tinggi? Karena TB itu penyakit menular. Melalui CKG, kontak erat yang tinggal serumah kita periksa. Kalau tidak sakit, langsung dikasih obat pencegahan; kalau sakit, baru diobati," ujar Wamen.
Wamen menuturkan, kuman TB itu menular hari ini, sakitnya baru beberapa bulan kemudian. Itu dikarenakan masyarakat sering enggan minum obat pencegahan karena merasa tidak sakit.
Dia menyebut, meski menyasar target cakupan TPT sebesar 72 persen di tahun 2026, realisasinya secara nasional baru menyentuh angka 12 persen.
Artikel Terkait
Mukota V Kadin Kota Tasikmalaya di Tengah Mundurnya 4 Panitia Inti, Tetap Digelar Hari Ini
Kejurdo V BKC Kota Tasikmalaya, Ratusan Karateka Berebut Tiket ke Kejurprov Jawa Barat
KMP Kota Tasikmalaya Terkendala Regulasi, Potensi Distribusi Subsidi Dinilai Besar
Jelang Setengah Abad, BKPRMI Kota Tasikmalaya Perkuat Gerakan Pemuda Remaja Masjid Menuju Indonesia Emas
PKKMB UMTAS 2026 di Kota Tasikmalaya Diikuti 1.400 Mahasiswa, Rektor Tekankan Wawasan dan Adaptasi AI
Nurul Awalin Jadi Calon Tunggal, Terpilih Aklamasi Pimpin Partai Golkar Kota Tasikmalaya 2026-2031