Karhutla Papua Selatan Bakar Ladang Sagu di Merauke, Warga Adat Berjuang Selamatkan Warisan Leluhur

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:57 WIB
Karhutla Papua Selatan membakar ladang sagu di Kampung Turiram, Merauke, sejak 17 Oktober 2026. Warga adat berupaya memadamkan api. (Threads/helinaola)
Karhutla Papua Selatan membakar ladang sagu di Kampung Turiram, Merauke, sejak 17 Oktober 2026. Warga adat berupaya memadamkan api. (Threads/helinaola)

 

MERAUKE, Mediapriangan.com - Masyarakat adat di Kampung Turiram, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, bergotong royong memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda ladang sagu sejak Sabtu, 17 Oktober 2026.

Hingga Senin, 19 Oktober 2026, kobaran api masih menjadi ancaman bagi kawasan yang menjadi sumber pangan sekaligus bagian dari warisan leluhur masyarakat setempat.

Kebakaran tersebut memicu kekhawatiran warga karena api berpotensi meluas ke permukiman dan merusak dusun sagu yang menopang kehidupan masyarakat adat secara turun-temurun.

Baca Juga: Api Karhutla Gunung Lawu Meluas Dekati Candi Cetho, 300 Personel Dikerahkan dan Water Bombing Terkendala Cuaca

Karhutla Papua Selatan Ancam Sumber Pangan Warga Adat

Pemuda adat Distrik Kimaam, Adrianus Tapiama, menyampaikan bahwa masyarakat masih berupaya mengendalikan api yang membakar ladang sagu di Kampung Turiram.

“Sampai saat ini, Masyarakat Adat masih berjuang untuk memadamkan kobaran api yang membakar ladang sagu di kampung Turiram,” kata Adrianus pada Senin, 19 Oktober 2026.

Bagi masyarakat adat Merauke, ladang sagu memiliki arti penting yang melampaui fungsi sebagai penghasil bahan pangan. Kawasan tersebut juga berkaitan dengan kehidupan sosial, identitas, dan warisan leluhur yang dijaga antargenerasi.

Baca Juga: Karhutla Jadi Perhatian Pemerintah, Mendagri Tito Karnavian Tegaskan Perusahaan Terlibat Bakal Ditindak Tegas

Sejumlah marga yang memiliki keterikatan dengan wilayah adat itu meliputi Kelapa, Kinambure, Saham, Kanjini, Werre, Babi, Bangau, Awi, Tumbaima, dan Mbarawa.

Adrianus berharap kebakaran segera dapat dikendalikan agar tidak meluas dan mengancam sumber penghidupan masyarakat.

Hingga laporan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) diterbitkan pada Senin, 19 Oktober 2026, luas lahan yang terbakar dan penyebab munculnya api belum diketahui.

Baca Juga: Korban Karhutla Gunung Bromo Bertambah, Relawan Munawi Meninggal Usai Alami Luka Bakar di Atas 50 Persen

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X