daerah

Ayah Prada Lucky Namo Murka, Tantang Siapapun Demi Keadilan atas Dugaan Penganiayaan yang Merenggut Nyawa Putranya

Jumat, 8 Agustus 2025 | 20:40 WIB
Foto ilustrasi menuntut keadilan - ayah Prada Lucky Namo meminta penyidikan dugaan penganiayaan yang menewaskan anaknya. (Pexels/Sora Shimazaki)

 

Mediapriangan.com - Kasus meninggalnya Prada Lucky Chepril Saputra Namo, prajurit TNI AD, memicu perhatian publik. Dugaan adanya penganiayaan oleh senior menjadi sorotan tajam, terlebih setelah ayah korban, Sersan Mayor Christian Namo, menyampaikan pernyataan tegas dan penuh emosi.

Jenazah Prada Lucky tiba di Bandara El Tari, Kupang, pada Kamis, 7 Agustus 2025. Di lokasi itu, Serma Christian meluapkan kemarahannya dan menuntut agar penyidikan dilakukan secara terbuka serta tuntas.

“Apa perlu korban terus? Nggak ada yang berani tutup mulut saya, siapapun itu nggak ada yang berani, untuk kebenaran, keadilan, berani sentuh saya?” ucapnya lantang.

Baca Juga: IFG Ajak Profesional Main di Panggung Ketoprak Financial ‘Samber Nyawa’, Angkat Pesan Moral untuk Generasi Muda

Ia menegaskan, nyawa sekalipun rela dipertaruhkan demi mencari keadilan bagi putranya.
“Nyawa saya taruhannya kok, saya mati dulu baru masalah ini selesai,” ungkapnya.

Kemarahan Christian juga dilatarbelakangi oleh kekhawatiran bahwa peristiwa serupa bisa menimpa prajurit lain.

“Biar tidak ada Lucky yang lain, Lucky-Lucky yang lain. Ingat baik-baik, anak tentara saja dibunuh kok, bagaimana mau yang lain,” katanya dengan nada geram.

Baca Juga: Meriahkan HUT ke-80 RI, Bupati Herdiat Main Angklung dengan Pensiunan dan Ajak Warga Kibarkan Bendera Merah Putih

Dugaan penganiayaan terhadap Prada Lucky semakin menguat setelah ditemukan luka di tubuh korban, termasuk bekas pukulan benda keras di punggung dan sundutan rokok di lengan serta kaki.

Saat ini, pihak berwenang telah menahan empat prajurit TNI yang diduga terlibat dalam penganiayaan tersebut. Proses penyidikan masih berlangsung guna mengungkap penyebab pasti kematian Prada Lucky.***

Tags

Terkini