Mediapriangan.com - Perkembangan teknologi digital telah mengaburkan batas antara ruang privat dan ruang publik. Segala hal kini mudah terekspos, dan nyaris tak ada lagi yang benar-benar bisa disembunyikan.
Bahkan kecerdasan manusia pun perlahan dapat ditiru, digandakan, bahkan dicuri melalui kecanggihan artificial intelligence.
Di tengah realitas ini, Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT), Tatang Suprihatna Sumpena atau akrab dipanggil Tatang Fahat menegaskan, dunia pendidikan serta seni dan budaya masih memiliki peluang besar menjadi filter terhadap masifnya arus digitalisasi.
Baca Juga: Satu Dekade DKKT, Menjaga Napas Kesenian Tasikmalaya di Tengah Badai Tantangan
Bukan hanya sebagai penyaring, keduanya diyakini masih mampu menjadi pondasi bagi sebuah masyarakat yang mulai kehilangan adab, etika, kesantunan, hingga empati.
Menurut Tatang, seni dan budaya sejatinya merupakan penjaga moral bangsa. Namun belakangan, fungsi itu perlahan memudar.
Seni dan budaya, yang sejak awal hadir sebagai medium ekspresi, katarsis, sekaligus pencerahan, kini mulai terseret menjadi bagian dari alat politik dan kekuasaan.
Baca Juga: Wakil Wali Kota Tasikmalaya Tekankan Peran Vital Seniman dalam Pemilihan Ketua DKKT 2025-2030
“Ketika seni budaya terkooptasi oleh kepentingan politik, marwahnya menjadi kabur. Seni kehilangan ruang bebasnya, kehilangan fitrahnya sebagai bahasa ekspresi yang jujur,” ujar Tatang, Senin (24/11/2025).
Karena itu, ia menilai sudah saatnya kekuatan seni budaya direposisi, bahkan direstrukturisasi atau bila perlu didekonstruksi, agar kembali pada hakikatnya: menjadi cermin kehidupan yang memancarkan realitas masyarakat pada zamannya.
"Bukankah karya seni selalu mewakili jamannya?” ucap Tatang menegaskan.
Namun terang Tatang, upaya mengembalikan seni budaya ke porosnya bukan perkara mudah. Dibutuhkan idealisme yang kokoh, kemampuan praktis yang mumpuni, serta perjuangan panjang.