Mediapriangan.com - Pengungsi Banjir di Aceh Tamiang kembali menyuarakan kondisi sulit yang mereka hadapi setelah Banjir bandang Aceh memaksa ribuan warga meninggalkan rumah.
Dalam suasana darurat yang menyelimuti tenda-tenda pengungsian, para penyintas menegaskan bahwa nilai hidup kini berubah drastis. Bagi mereka, makanan dan lilin penerangan jauh lebih berarti daripada uang tunai yang selama ini menjadi alat pemenuh kebutuhan.
Situasi ini tergambar jelas dalam sebuah video yang diunggah akun Facebook Charren Ladyong Yekching pada Selasa, 9 Desember 2025.
Baca Juga: Fenomena Gunung Menangis Muncul di Sembalun, Warga Khawatir Ancaman Banjir Bandang Terulang
Dalam video tersebut, seorang pria yang menjadi bagian dari pengungsi banjir Aceh Tamiang mengungkapkan kondisi riil yang mereka hadapi setiap hari. Ia menegaskan bahwa prioritas mereka bukan lagi harta, melainkan kebutuhan yang paling mendasar.
"Kalau uang kami tidak minta, uang tidak berharga, makanan yang penting," ujarnya tegas di dalam video yang kini banyak dibagikan di media sosial.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa makanan telah menjadi kebutuhan yang paling krusial bagi para korban banjir bandang Aceh. Dengan bahan pangan yang terbatas, para pengungsi harus mengandalkan pasokan dari relawan dan lembaga kemanusiaan.
Baca Juga: Akses Masih Terputus, Warga Bener Meriah Tempuh Tiga Jam Jalan Kaki Demi Bantuan Beras
Bukan hanya soal kebutuhan makan, pria itu juga menyoroti masalah penerangan di tenda. Setiap malam, para pengungsi harus beradaptasi dalam kegelapan karena tidak ada sumber cahaya yang memadai.
"Lilin penerangan tidak ada, boleh-boleh dibagikan," lanjutnya, menegaskan bahwa lilin kini menjadi barang berharga untuk melewati malam yang panjang.
Kondisi tersebut memperlihatkan situasi darurat yang dialami warga di Aceh Tamiang, wilayah yang menjadi salah satu titik terparah terdampak pengungsi banjir.
Baca Juga: Ribuan Kayu Gelondongan Bertanda Kemenhut Terdampar di Lampung, Benarkah Ada Jejak Illegal Logging?
Ribuan warga kini tinggal di lokasi pengungsian setelah air bah menyeret harta benda mereka tanpa ampun. Banyak di antara mereka hanya membawa pakaian yang menempel di badan.