“Kami air yang krisis. Beli belum ada yang buka kedai,” tambahnya.
Menurut pengakuan warga kota tersebut, sebelumnya bantuan air minum cukup sering datang, terutama dari warga yang melintas dan relawan.
Namun, kondisi itu kini berubah dan bantuan air minum disebut semakin jarang diterima warga kota Aceh Tamiang.
“Dulu banyak orang-orang motoran dikasih, sekarang udah kurang bantuan airnya. Sekarang nggak ada lagi,” imbuhnya.
Warga kota Aceh Tamiang juga membenarkan bahwa saat ini distribusi bantuan air minum lebih banyak diarahkan ke wilayah pelosok.
Akibatnya, warga kota merasa tidak lagi menjadi prioritas meski kebutuhan air minum masih sangat mendesak pascabanjir bandang.***