Baca Juga: DPRD Nilai Sistem Abodemen PJU Boros, Anggaran Listrik Kota Tasikmalaya Tembus Rp30 Miliar per Tahun
Mila yang menempati kios paling depan mengaku dirinya selama ini hanya berusaha bertahan karena sudah kadung mengeluarkan modal usaha dagang kelontongan.
Omzet usahanya minim, seringkali omzet usahanya di bawah Rp 100 ribu dalam sehari.
"Sepi sekali, paling dapat Rp 80 ribu, ini sudah 2 minggu tak lebih dari Rp 100 ribu. Nah kalau lagi ramai dapat Rp 300 ribu. Itu omzet ya bukan keuntungan," katanya. Setiap hari Mila membuka kiosnya sejak pagi buta hingga pukul 15.00 WIB.
Baca Juga: Proses BKN Rampung, Pengisian Jabatan Eselon II Segera Dilakukan, Begini Kata Sekda Kota Tasikmalaya
Hal senada diungkapkan Ningsih, pedagang sayuran yang menempati los di belakang.
"Rata-rata sehari dapat Rp 100 ribu, sepi pengunjung. dzuhur juga sudah tutup," kata Ningsih.
Keduanya mengungkapkan akan terus mencoba bertahan dalam kondisi itu dengan harapan ke depan akan ada perubahan.
"Memang harusnya semua pedagang kompak, tetap buka (berjualan) walau pun sepi, tapi kita kan tak bisa memaksa. Sekarang bertahan saja dulu, mudah-mudahan ke depan ada jalannya, pasar ini jadi ramai," kata Ningsih.
Baca Juga: Siswi SMP Persis Gandok Wakili Kota Tasikmalaya di International Model United Nations Malaysia
Dikonfirmasi terkait kondisi tersebut, anggota Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Enan Suherlan, menyatakan perlunya intervensi atau campur tangan pemerintah agar pasar yang sepi tersebut dapat kembali ramai.
"Harus ada solusi dari pemerintah agar bagaimana caranya masyarakat bisa hadir dipasar tersebut, "ujar Enan, Rabu 14 Januari 2026.
Atau kata dia, bisa saja pasar tersebut dijadikan pasar tematik seperti dijadikan khusus pasar ikan, buah-buahan atau lainnya.
Namun itu juga harus ada investigasi terlebih dahulu oleh pemerintah apa yang dibutuhkan masyarakat dan apa potensi masyarakat didaerah tersebut.
Baca Juga: HIPATAS Pasar Cikurubuk Peringati Isro Miraj 1447 H dengan Tabligh Akbar dan Santunan Anak Yatim