TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Kondisi perekonomian Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya terus mengalami tekanan seiring melemahnya transaksi jual beli. Maraknya penjualan online melalui media sosial dinilai menjadi faktor yang mendorong semakin banyak pedagang gulung tikar.
Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan online berkembang pesat melalui berbagai platform media sosial. Banyak pelaku usaha digital mampu meraup omzet besar melalui sistem social commerce.
Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut berdampak serius terhadap keberlangsungan Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, khususnya bagi pedagang konvensional yang mengandalkan transaksi langsung.
Baca Juga: Empat Tahun Pasca Diresmikan, Aktivitas Pasar Rakyat Cibeureum di Kota Tasikmalaya Masih Sepi
Salah seorang pedagang sandal di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, Yaya, mengungkapkan bahwa kondisi pasar mulai sepi sejak penjualan online semakin ramai.
"Betul pak sejak penjualan oline rame, penjualan pasar tradisional sepi. Akibatnya banyak pedagang pasar yang gulung tikar hingga tidak berjualan lagi. Ya sekitar 40 persen pak sekarang kios disini tutup," ujar Yaya, Rabu 14 Januari 2026.
Ia menambahkan, banyak pemilik kios yang akhirnya memilih menyerah dan tidak lagi berjualan.
"Yang mau disewakan juga banyak, hampir di setiap blok di Pasar Cikurubuk ada yang mau disewakan. Bahkan yang mau dijual juga ada," ujar Yaya.
Baca Juga: HIPATAS Pasar Cikurubuk Peringati Isro Miraj 1447 H dengan Tabligh Akbar dan Santunan Anak Yatim
Keluhan serupa disampaikan Panji (42), pedagang pakaian di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya.
Menurutnya, harga barang di penjualan online jauh lebih murah sehingga tidak mampu disaingi pedagang pasar.
Ia mencontohkan, harga sepatu dengan produk serupa di pasar dijual Rp150.000, sementara di media sosial bisa dijual Rp100.000, padahal harga modal pedagang pasar mencapai Rp120.000.