TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Di sebuah sudut Kampung Wangunsari, Desa Setiawaras, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya, sejarah ekonomi rakyat tumbuh perlahan, nyaris tanpa sorotan.
Bukan dari gedung megah atau suntikan modal besar, melainkan dari teras rumah sederhana dan obrolan ringan ibu-ibu desa pada era 1970-an.
Kala itu, sekelompok perempuan yang tergabung dalam Wanita Republik Indonesia (Perwari) kerap berkumpul selepas menjalani rutinitas rumah tangga.
Dari perbincangan santai itulah lahir gagasan sederhana. Bagaimana caranya membantu ekonomi keluarga dengan cara saling menopang.
Tak ada rencana besar, apalagi target aset miliaran. Yang ada hanyalah kebersamaan, kepercayaan, dan semangat rereongan, saling membantu dengan apa yang dimiliki.
Baca Juga: Cegah Peredaran Ulang, Kejari Tasikmalaya Musnahkan Sabu, Psikotropika, dan Senjata Tajam
Dari Jualan Sale hingga Simpan Pinjam
Ketua Koperasi Warga Puspasari, Encep Wardiman, mengenang kisah itu sebagai fondasi kuat koperasi yang kini ia pimpin.
“Awalnya ibu-ibu jualan perabot dapur dan makanan ringan seperti sale. Modalnya patungan kecil, lalu uangnya disimpan sedikit demi sedikit,” tuturnya, Minggu (25/1/2026).
Memasuki awal 1980-an, para ibu Perwari bertransformasi menjadi penggerak PKK. Aktivitas ekonomi yang semula bersifat informal mulai lebih tertata.
Kebiasaan menabung berkembang menjadi usaha simpan pinjam antaranggota, dengan modal awal tak lebih dari Rp500 ribu.
Nilainya kecil, tetapi dampaknya besar. Warga yang kesulitan modal tak lagi bergantung pada rentenir. Roda ekonomi desa pun mulai bergerak pelan namun pasti.