TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Sambutan Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Chandra Negara saat acara silaturahmi Kapolresta Tasikmalaya kota bersama unsur porkopimda, ulama dan tokoh masyarakat di halaman Mapolresta Tasikmalaya Kamis 12 Pebruari 2026, dinilai syarat makna.
Apa yang disampaikan Diky Chandra bukan sekadar selingan komedi di tengah acara formal Forkopimda. Jika kita jeli membaca lapisan maknanya, itu adalah sebuah klarifikasi yang elegan.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekertaris Umum IKA PMII sekaligus Ketua Generasi Muda Nahdlatul Ulama Kota Tasikmalaya Myftah Farid, S.IP, Jumat (13/02/2026).
Menurut Farid, analogi "sumbatan komunikasi" yang disampaikan wakil walikota bukan untuk menunjuk hidung, tapi untuk menjelaskan mengapa mesin pemerintahan kadang tidak lari kencang dan banyak demonstrasi ke balekota serta ujungnya pun tetap tersumbat karena wali kota tidak menemui para demonstran.
"Saya menangkap, di hadapan para ulama MUI, pimpinan parpol, ormas, dan pimpinan aktivis gerakan mahasiswa, Pak Wakil Wali Kota seolah sedang mengirim sinyal bahwa dirinya ingin berbuat lebih, tapi minim peran," jelas Farid.
Analogi puasa bicara suami istri dalam sambutan Wakil Wali Kota Tasikmalaya kata dia, sangat menyentuh dan seperti nyata dalam realitas pemerintahan kota tasikmalaya.
Baca Juga: Program Kampung Sosial Provinsi Jawa Barat Jadikan Kota Tasikmalaya sebagai Daerah Percontohan
"Mari kita lihat analogi "Suami-Istri" dalam pemerintahan. Wali Kota dan Wakil Wali Kota sering dianggap satu paket pengelola rumah tangga kota atau suami istri. Namun, apa jadinya jika komunikasi di antara mereka hanya sebatas formalitas surat-menyurat?, " Katanya.
"Bayangkan suami yang ingin makan, dan mau dapat uang/peluang lalu menulis surat, dan hanya dapat makanan sisa tikus serta peluang mendapat uang melayang gara membangunkan tidur melalui surat dalam secarik kertas, Ini adalah satir yang pedas, "ujar Farid menambahkan.
Menurutnya, jika komunikasi hanya berdasarkan "prosedur surat" tanpa ada tatap muka, tanpa ada kesamaan visi (chemistry), maka instruksi hanya akan jadi tumpukan kertas. Hasilnya, Kesempatan emas untuk memajukan kota hilang karena ego atau sumbatan komunikasi.
Baca Juga: RAT Koperasi Poklak Mawar Cikalang, Perkuat Peran dalam Pemberdayaan Ekonomi Warga Kota Tasikmalaya
"Klarifikasi atas keterbatasan peran melalui cerita tersebut, pak wakil sebenarnya sedang memperlihatkan kondisi riil di internal pemerintahan Kota Tasikmalaya saat ini. Beliau seolah menjelaskan bahwa keterbatasan langkahnya bukan karena kurangnya niat, melainkan karena saluran komunikasinya sedang mampet, "Katanya.
Farid juga menyebut, dengan gaya pelawak, Pak Wakil bisa menampar tanpa membuat wajah orang bengkak dan merah.
"Beliau mengingatkan bahwa jika Wali Kota dan Wakil tidak seirama, yang rugi adalah rakyat "ucapnya.