Kisah lain dari Aceh Tamiang menyoroti kebutuhan dapur umum bagi korban banjir selama puasa Ramadan. Dalam unggahan berbeda pada 13 Februari 2026, seorang warga menyampaikan harapan agar dapur umum tetap beroperasi.
“Kita mengharapkan dapur umum. Kalau ingat itu, kami nggak sanggup,” ujarnya sambil terisak nangis.
Penutupan sejumlah dapur umum terjadi seiring kembalinya sebagian warga ke rumah kerabat serta berkurangnya relawan di Aceh Tamiang. Kondisi tersebut membuat beban korban banjir yang masih bertahan di tenda pengungsian semakin berat saat memasuki puasa Ramadan.
Kebiasaan sahur pun berubah total. Tanpa lemari pendingin dan fasilitas memasak memadai, warga harus menyiapkan makanan secara cepat agar bahan seperti sayur dan ikan tidak cepat rusak.
Tidak ada lagi persiapan sejak malam sebelumnya seperti saat mereka masih tinggal di rumah.
Bagi warga Aceh Tamiang, puasa Ramadan tahun ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang bertahan di tenda pengungsian dengan segala keterbatasan sebagai korban banjir yang masih berjuang bangkit dari bencana.***