PAMEKASAN, Mediapriangan.com - Polemik menu lele MBG di SMAN 2 Pamekasan, Jawa Timur memunculkan berbagai tanggapan dari publik. Isu tersebut menjadi perhatian setelah ratusan paket makanan dalam program makan bergizi gratis yang dikirim ke sekolah itu dikembalikan karena dinilai tidak layak dikonsumsi.
Peristiwa menu lele MBG tersebut terjadi pada Senin, 9 Maret 2026. Saat itu, sebanyak 1.022 paket makanan yang didistribusikan kepada siswa tidak dibagikan dan akhirnya dikembalikan oleh pihak sekolah.
Program makan bergizi gratis tersebut disalurkan oleh SPPG As-Salman yang berada di Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu. Paket makanan yang dikirim berisi satu ikan lele, dua potong tahu, dan dua potong tempe untuk kebutuhan konsumsi beberapa hari.
Kasus menu lele MBG ini kemudian memicu reaksi dari dokter Dion Haryadi yang juga dikenal sebagai kreator konten edukasi kesehatan. Ia menyoroti aspek pengolahan dan distribusi makanan oleh SPPG yang menurutnya perlu dipikirkan dengan matang.
“Dari kemarin heboh lele mentah untuk MBG. Saya ngerti maksudnya untuk dimasak di rumah, oke. Tapi kan proses distribusinya harus dipikirkan dong,” tulisnya pada unggahan video di laman Instagram, dikutip pada Kamis, 12 Maret 2026.
Menurut dokter Dion Haryadi, konsep pembagian bahan makanan untuk dimasak di rumah sebenarnya bisa saja dilakukan. Namun, ia menilai mekanisme distribusi oleh SPPG harus memperhatikan keamanan pangan selama perjalanan hingga sampai ke penerima.
Ia juga membandingkan contoh distribusi dari SPPG lain yang menurutnya lebih baik dalam pengemasan dan pengolahan makanan sebelum dibagikan.
“Padahal kemarin ada yang udah bagus dan harus diapresiasi. Ada SPPG yang ngasih paket ayam ungkep terus divakum. Nanti dimasak di rumah, anget-anget tinggal tambahi sayur sama karbo,” ujarnya dalam video tersebut.
“Ini menurut saya udah jauh lebih bagus dari paket makanan kering yang berseliweran terus selama bulan puasa ini,” lanjutnya.
Selain menyoroti pengemasan menu lele MBG, dokter Dion Haryadi juga mempertanyakan kondisi makanan selama proses distribusi oleh SPPG hingga sampai ke penerima manfaat.
“Apakah mungkin pihak SPPG memperkirakan di hari itu cuaca di Pamekasan bisa mencapai -3 derajat Celcius sehingga makanan mentahnya ‘Nggak apa-apa deh, kita biarkan begitu di suhu ruangan tanpa kulkas dan dibagiin pagi buat makan malam nanti,’” lanjutnya.