ACEHTENGAH, Mediapriangan.com - Kondisi pendidikan di Reje Payung Aceh Tengah pascabencana kembali menjadi sorotan setelah disampaikan langsung oleh Trisa Triandesa. Aktor yang juga terjun sebagai relawan ini mengungkap keterbatasan fasilitas belajar, terutama minimnya buku pelajaran bagi para siswa.
Sorotan Trisa Triandesa terhadap Reje Payung Aceh Tengah berangkat dari temuan di lapangan, di mana kegiatan belajar belum sepenuhnya pulih meski bencana telah berlalu beberapa bulan. Ketiadaan buku pelajaran menjadi kendala utama dalam proses pendidikan pascabencana di wilayah tersebut.
Dalam unggahan media sosialnya, Trisa Triandesa menyebut bahwa hingga awal Maret 2026, bantuan buku pelajaran belum diterima oleh sekolah maupun siswa di Reje Payung Aceh Tengah.
Baca Juga: Viral Ibu Berdoa di Tengah Hujan Usai Salat Id di Pekanbaru, Momen Haru Bikin Warganet Tersentuh
“Sampai 9 Maret 2026, ketika saya di sana, belum ada nih buku pelajaran diterima oleh guru dan siswa. Habis lebaran mungkin, ya? Aamiin,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Kondisi ini membuat proses belajar mengajar berjalan dengan keterbatasan. Bahkan, menurut Trisa Triandesa, masih ada anak-anak di Reje Payung Aceh Tengah yang belum kembali bersekolah secara normal.
“Kemendikdasmen, izin, boleh nggak tolong dikirimkan buku pelajaran untuk anak-anak di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah ini? Karena udah lebih dari 3 bulan mereka nggak belajar,” ucapnya dikutip dari video tersebut.
Baca Juga: Viral War Tempat Salat Id di Panjalu: Warga Gelar Sajadah Sejak Malam, Tradisi Unik Lebaran 2026
“Kalaupun belajar, hanya mengandalkan apa yang bisa diajarkan dengan segala keterbatasan oleh guru yang ada di sini,” imbuhnya.
Selain persoalan buku pelajaran, Trisa Triandesa juga menyoroti kondisi tenaga pengajar di Reje Payung Aceh Tengah yang menghadapi tantangan berat dalam pendidikan pascabencana.
Ia mengungkap bahwa seorang guru harus mengajar seluruh jenjang kelas dalam satu waktu dengan fasilitas darurat.
“Gurunya, kemarin saya ngobrol dengan Pak Ijal, dia itu gajinya Rp250.000 per bulan,” terangnya.
“Sekarang beliau itu ngajar dari kelas satu sampai kelas 6 di tenda BNPB. Semuanya disatuin dan mengajar dengan apa pun yang beliau masih bisa ajarkan dengan segala keterbatasannya,” tuturnya lagi.