Baca Juga: Tanpa Bantuan Jabar, Anggaran Kota Tasikmalaya Menyusut Jadi Rp1,4 Triliun
Ditempat yang sama Prof. Dr. Atwar Bajari menekankan pentingnya literasi media di era digital. Ia menyebut paham radikal kini menyebar melalui konten yang dikemas menarik, menyentuh emosi, dan memanfaatkan algoritma. Masyarakat harus dibekali kemampuan berpikir kritis sebelum membagikan informasi.
“Jangan mudah terpancing judul provokatif. Cek dulu sumbernya, lihat konteksnya. Sekali kita share konten radikal, berarti kita ikut menyebarkan,” jelas Atwar.
Pemerintah daerah kata dia, perlu memperkuat kolaborasi dengan komunitas akar rumput. Menurutnya, deteksi dini paham ekstrem paling efektif dilakukan di tingkat RT/RW karena interaksi sosial paling intens terjadi di sana.
Baca Juga: Cegah Radikalisme, Kominda dan TNI Gandeng Ormas Islam Jaga Stabilitas Keamanan Kota Tasikmalaya
Sementara itu, Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Andi Purwanto, memastikan jajarannya siap bersinergi dengan Bakesbangpol dan masyarakat.
Kapolres mengingatkan bahwa radikalisme bukan hanya isu ideologi, tetapi bisa berujung pada aksi teror yang mengancam nyawa.
“Polri tidak bisa bekerja sendiri. Butuh mata dan telinga masyarakat. Kalau ada gelagat mencurigakan, segera koordinasi dengan Bhabinkamtibmas atau Babinsa,” tegas Andi.***